MEMAKNAI HARI KE 3 TAHUN BARU 2008

ADA DUA HAL YANG TIDAK BISA DI TUNDA DALAM HIDUP, BERBAKTI DENGAN ORANG TUA DAN MELAKUKAN KEBAJIKAN BAGI SESAMA, MAKA KINI SAATNYA MEMAKNAI HIDUP BARU DALAM TAHUN BARU SANGAT PENTING…. DAN LEBIH PENTING…….

Saat kelahiran adalah saat anugerah. Hidup secara keseluruhan -kelahiran, hidup yang dijalani, dan kematian yang menunggu, diri kita dengan penampilan dan segala potensi, orangtua, suku, ras, tanah air, semua itu ada pada kita bukan karena usaha kita atau pemberian manusia lain, melainkan merupakan anugerah Allah belaka.
Sikap hidup utama yang sebaiknya ada di dalam diri kita adalah bersyukur atas segala anugerah dan melihat hidup ini sebagai saat untuk berkembang dan menyumbang.
Kita manusia berkewajiban mengembangkan diri. Berbeda dengan makhluk-makhluk lain di dunia, yang hanya merupakan makhluk temporalis, yang hidup di dalam waktu, kita adalah makhluk historis, menyejarah, yang hidup dalam waktu dan sadar bahwa diri kita hidup dalam waktu. Sebagai makhluk historis, hidup kita mengikuti proses dari masa lampau, melalui masa kini dan menuju ke masa depan. Tak ada hal entah baik atau buruk yang terjadi secara tiba-tiba. Semua memerlukan proses. Hukum bijak dalam kehidupan adalah: (1). menyiapkan lahan, (2). menabur benih, (3). memelihara tanaman yang sudah tumbuh dari benih, dan baru (4). memetik panen. Tak ada tahap yang boleh dilalui dan diabaikan.
Kita manusia juga harus mengembangkan diri karena kita, manusia, adalah makhluk spiritual, rohani. Makhluk-makhluk lain di dunia hanyalah makhluk naturalis, alamiah. Makhluk-makhluk itu mempunyai pola pengembangan yang pasti sejak awal hidup mereka di dunia.. Sedang kita sebagai makhluk spiritual, kita tidak memiliki pola pengembangan yang sudah ditentukan sebelumnya. Karena itu, meski dipengaruhi oleh lingkungan, pola asuh dalam keluarga dan pola didik di luar keluarga, pengembangan diri kita kita tentukan sendiri melalui kemauan dan keputusan pribadi kita. Untuk mampu mengembangkan diri itu kita manusia dilengkapi dengan: (1). kesadaran diri, (2). hati nurani, (3). kehendak bebas dan (4). imaginasi kreatif.
Tujuan pengembangan diri adalah agar kita mampu memberi sumbangan kepada sesama dan masyarakat. Jika kita mampu mengembangkan segala daya kita: fisik, mental (budi, kehendak, emosi/afeksi), dan potensi-potensi (akademik, seni, olah-raga, hubungan dengan orang lain, kepemimpinan/organisasi, moralitas dan spiritualitas) kita, kita akan mampu memberi sumbangan dan kontribusi nyata dan unggul kepada sesama dan masyarakat kita sesuai denga status hidup dan profesi kita. Dengan kemampuan memberi sumbangan itu hidup kita menjadi bermakna bagi diri kita sendiri, sesama dan masyarakat kita. Itulah inti hidup yang terberkati dan bahagia.
Merayakan Tahun Baru adalah memeriksa: bagaimana perkembangan diri dan pemberian sumbangan kita kepada sesama dan masyarakat kita di masa lampau, terutama tahun silam, dan menetapkan perkembangan dan sumbangan apa yang akan kita berikan di masa depan, terutama tahun baru yang akan datang. Untuk itu, kita perlu mengembangkan sikap, pengetahuan, kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang diperlukan. Selamat Merayakan Tahun Baru. (Penulis Heribertus Gunawan)

TERUS TERANG,TERANG TERUS (Matius 5:13-16)

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.
[Matius 5:16]

Suatu hari Tom, seorang penjaga pintu lintasan kereta api diajukan kepersidangan sebagai terdakwa penyebab meninggalnya pengemudi bis kota dan puluhan penumpang lainnya yang sedang dalam perjalanan untuk berlibur di salah satu pantai Florida, Amerika. Tugas Tom adalah memberitahu kepada para pemakai jalan, bahwa kereta api akan lewat, yaitu dengan cara mengangkat lentera yang dipegangnya. Tetapi entah mengapa, sore itu supir bis yang membawa puluhan orang seakan-akan tidak melihat lentera yang telah diangkat Tom, sehingga tabrakan maut tak terelakan.

Di ruang sidang, majelis hakim seolah-olah tidak memihak pada Tom, bahkan puluhan orang yang ada di ruangan itu tetap mengatakan, bahwa Tom bersalah. Dengan suara yang setengah geram, jaksa penuntut untuk kesekian kali memaksa Tom mengakui, bahwa ia lalai mengangkat lentera sebagai tanda kereta akan lewat, sehingga semua pengguna jalan harus mendahului lewatnya kereta itu. Tom tetap kokoh mengatakan, bahwa ia tidak lalai dalam tugasnya. Untuk terakhir kalinya penuntut umum bertanya, “Benarkah Anda tidak melalaikan tugas?” Dengan tegas Tom mengatakan, “Tidak pak!” “Kalau begitu apakah Anda yakin, bahwa lentera yang Anda angkat itu menyala?”, tanya penuntut umum. Dengan terbata- bata Tom berkata, “Saya tidak lalai untuk mengangkat lentera itu, tetapi saya tidak tahu apakah lentera itu menyala atau tidak?”

Saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, terang adalah sesuatu yang dapat dilihat terang hadir, maka kegelapan tidak akan mampu menghampirinya. Kehadiran terang banyak manfaatnya, jika terang lentera itu menyala, maka tidak terjadi tabrakan maut. Jika terang itu bercahaya, maka setiap orang akan mudah melakukan aktivitas di malam hari, dan sebagainya. Mari kita pancarkan terang kemuliaan Allah melalui sikap hidup (perkataan, perbuatan, dan tingkah laku) agar sebanyak mungkin orang berbalik dari gelap menuju terang.

Doa:
Tuhan Yesus, tolong saya agar cahaya terang yang ada dalam hidup ini tidak redup, tetapi mampu menerangi setiap orang agar mereka dapat melihat kebenaran Allah. Amin.
Tuhan memberkati!

Mendambakan Bonum Publicum

Amanat Mukadimah UUD 1945 (juga setelah diamandemen) memberikan empat tugas kepada bangsa Indonesia. Pertama, membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kedua, memajukan kesejahteraan umum. Ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa. Keempat, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dalam amanat itu tersirat dan tersurat dambaan akan bonum publicum, kesejahteraan dan kebaikan hidup bersama. Kontradiksi Belakangan ini kian kita sadari betapa jauh keadaan bangsa ini dari amanat yang telah dicita-citakan dan diletakkan sebagai dasar hidup berbangsa dan bernegara oleh para founding fathers kita. Ada kontradiksi antara amanat Mukadimah UUD 1945 dan realitas di masyarakat kita. Alih-alih melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, pemerintahan kita cenderung sewenang-wenang dan bersikap mentang-mentang. Kontroversi terkait dengan kenaikan tarif tol adalah salah satu indikasi, bahkan bukti yang nyata. Kenaikan itu tidak dikonsultasikan kepada DPR, khususnya komisi yang membidangi transportasi. Tarif Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) yang disamaratakan menjadi Rp 6.000 untuk jarak jauh-dekat menafikan perbedaan tarif Tol Jagorawi dan beberapa tol lain yang berbeda untuk setiap pintu keluarnya.

Pemerintah lebih pro kepada kepentingan pengusaha/investor ketimbang kepentingaan masyarakat. Dalih “jalan tol bukan untuk jarak dekat, dan kalau tak mau bayar tarif tol yang mahal, ya jangan masuk jalantol”, sungguh menyakitkan. Kontroversi kenaikan tarif tol membuktikan betapa pemerintah tidak memihak kepada dambaan rakyat akan terciptanya bonum publicum. Bangsa ini belum juga mengalami kemajuan kesejahteraan umum, bagian dari bonum publicum. Rakyat kita justru setiap kali dibikin limbung karena berbagai persoalan yang menggunung. Tiap kali bulan Ramadhan di depan hidung, saat itu juga harga sembako turut melambung. Belum lagi nanti menjelang Lebaran, tarif kendaraan umum pun ikut naik. Dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan kita kerap kali menjadi ajang komersialisasi yang membebani rakyat. Gedung-gedung sekolah negeri yang ambruk ada di mana-mana. Setiap tahun selalu saja ada persoalan-persoalan yang mengabaikan, bahkan melanggar hak- hak asasi manusia dalam dunia dan sistem pendidikan kita. Akibatnya, bangsa ini tidak kunjung cerdas dalam menghadapi berbagai persoalan, bahkan seolah tanpa visi yang jelas bagi masa depan Tanpa nurani Dari kasus kenaikan tarif tol, berlarut-larutnya penderitaan yang dialami kurban lumpur Lapindo, hingga melambungnya harga sembako membuktikan bahwa kita kerap kali hidup tanpa nurani, terutama para penguasa republik ini. Konversi minyak tanah ke elpiji tidak disertai dengan persiapan dan pengelolaan yang matang. Akibatnya, justru di banyak tempat rakyat mengalami kesulitan. Semua itu menjadi ironi yang menggejala di negeri kita akhir- akhir ini. Rakyat dijejali kenaikan harga komoditas dan tarif jasa bertubi-tubi. Dipastikan, semua akumulasi dari kenaikan harga dan tarif itu akan berefek domino ke komoditas lainnya. Akibatnya, kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari bakal melambung. Rakyat menjadi linglung. Dalam kasus kenaikan tarif tol dan harga minyak, kita melihat bahwa pemerintah memang tidak memiliki sense of crisis, untuk tidak mengatakan bahwa mereka mengambil kebijakan tanpa perasaan dan nurani. Karena itu, kebijakan-kebijakan yang diambil telah pernah ditandai oleh preferential option for and with the poor, keberpihakan terhadap dan bersama kaum miskin (Michael Taylor, Dilarang Melarat, 2007). Hal ini kian menegaskan bahwa segala bentuk ketidakadilan, kemiskinan dan penderitaan memang merupakan “produk sejarah dan ciptaan manusia”, khususnya mereka yang berkuasa (Eleazar Fernandez, Toward a Theology of Struggle, 1994:36). Dengan kebijakan-kebijakan yang diambil tanpa landasan nurani yang jernih, pemerintah telah mengabaikan kepentingan yang lebih hakiki yang seharusnya disadari, yakni mewujudkan kesejahteraan rakyat. Sayang, setiap kali, pemerintah kehilangan momentum untuk menjawab dambaan rakyat akan terciptanya bonum publicum.

Aloys Budi Purnomo Rohaniwan, Pemimpin Redaksi Majalah Inspirasi, Semarang Kompas 10 September 2007

DETEKSI DINI MASALAH ANAK USIA PRA SEKOLAH

ANAK ADALAH GENERASI PENERUS GEREJA MASA DEPAN, GEREJA KITA PENUH DENGAN ANAK-ANAK, TETAPI KITA MASIH PERLU BANYAK BELAJAR MEMAHAMI ANAK, MEMAHAMI ANAK SEJAK DINI, MAKA KITA BELAJAR DARI YESUS ; BIARLAH ANAK-ANAK DATANG KEPADAKU……….

MENGAPA PERLU DETEKSI DINI PADA USIA PRASEKOLAH ?

Pencegahan dan penanganan sedini mungkin untuk beberapa gangguan belajar akan semakin efektif. Berbagai jenis gangguan perkem-bangan dengan berbagai derajatnya seringkali mulai dapat terlihat pada usia‑usia prasekolah, namun seringkali jika orangtua dan guru tidak memahaminya cenderung untuk mengabaikannya. Beberapa gejala dapat terlihat dengan sangat jelas, namun dalam beberapa kasus dapat terjadi tidak terlihat jelas dan seringkali tidak terdiagnosa.

Masa prasekolah merupakan perode kritis untuk efektivitas upaya‑upaya pencegahan dan penanganan berbagai gangguan belajar. Oleh karena itu orangtua, dan guru prasekolah perlu memahami deteksi dini gangguan belajar untuk dapat dengan segera memberikan rujukan kepada tenaga profesional seperti dokter tumbuh kembang anak, psikolog ataupun psikiater jika ditengarai siswa tertentu menunjukkan masalah‑masalah belajar.

MASALAH YANG SERING TERJADI PADA USIA PRASEKOLAH?

a. Masalah umum yang sering terjadi

Masalah perilaku pada usia prasekolah banyak terjadi karena tugas‑tugas perkembangan pada suatu periode tertentu tidak terpenuhi sehingga menimbulkan masalah. Schaefer Et Mittman (1981) mengemukakan beberapa masalah umum peritaku anak yang sering muncul :

1. Tidak patuh

Ada 3 bentuk ketidakpatuhan: melakukan instruksi tapi terpaksa, tidak mau metakukan instruksi, atau sengaja melakukan yang bertolak belakang dengan instruksi.

Penyebab perilaku tidak patuh antara lain :
pola pengasuhan yang serba membolehkan atau terlalu disiplin, pola pengasuhan yang tidak konsisten, orangtua yang mengalami stres, ataupun anak terlalu pandai.

2. Temper tantrum

Temper tantrum merupakan kemarahan yang meledak‑ledak yang berupa hilangnya kontrol diri berbentuk menjerit‑jerit, memaki, merusak barang, dan berguling‑guling di lantai. Anak yang lebih kecil biasanya muntah atau mengompol, kadangkala ada juga yang menyerang orang lain dengan menyepak dan memukul.

Temper tantrum sering terjadi pada anak usia prasekolah terutama 2 sampai 4 tahun ketika anak pertama kali berusaha menunjukkan negativisme dan kemandiriannya. Setelah lebih besar (5 ‑ 12 tahun) anak sudah bisa mengutarakan pikirannya secara verbal sehingga temper tantrum akan berkurang.

Penyebabnya biasanya karena reaksi instingtif saat frustrasi, diserang atau keinginan tidak terpenuhi, meniru, ketidakmampuan mengutarakan isi hati secara komunikatif.

3. Agresif: verbal atau fisik

Perilaku Agresif adalah perilaku yang dapat menimbulkan luka pada diri sendiri atau orang lain. Agresi bisa berupa agresi fisik seperti memukul, menyepak, melempar, mendorong, meludahi, dll. dan bisa berupa agresi psikis seperti memanggil nama dengan tidak hormat, mengejek, memerintah, memberi label, bertengkar, dan mengancam.

Anak yang agresif cenderung impulsif, mudah marah, tidak matang, sukar menerima kritik dan mudah frustrasi. Penyebabnya antara lain karena frustrasi datam kehidupan sehari‑hari atau karena pengaruh daya khayal anak. Anak yang sering menonton filem‑filem agresi cenderung lebih agresif daripada anak lain pada umumnya.

4. Menarik diri

Anak yang menarik diri tidak mau terlihat datam kontak sosial dengan teman‑temannya. hat ini dapat dipengaruhi oleh masalah lain seperti kesulitan bersekotah, gangguan kepribadian, dan masalah‑masalah emosionat. Namun bisa juga terjadi anak‑anak yang terlalu pandai atau terlalu kreatif seringkali mengalami masalah ini. Cara berpikir yang berbeda membuat teman‑teman seusianya tidak dapat menerima mereka sehingga ia terkucilkan.

Anak‑anak menarik diri disebabkan oleh rasa takut terhadap orang lain, kurangnya keterampitan sosial seperti antri, berbagi, menyumbangkan ide,dll., atau orangtua yang tidak suka pada teman sebayanya.

5. Impulsif

Anak yang imputsif bertindak secara spontan secara mendadak, memaksa, dan tidak sengaja. la tidak memikirkan akibat dari tindakannya.

Anak usia prasekolah masih wajar jika menunjukkan beberapa peritaku impulsif mengingat kematangan kognitif dan emosinya masih belum berkembang sepenuhnya. Namun untuk kasus‑kasus yang ekstrim, impulsivitas dapat disebabkan oleh penyebab organik, kecemasan (karena cemas tidak dapat berpikir rasionat), dan pengaruh budaya atau pengasuhan.

6. Terlalu aktif

Pertu dibedakan anak yang terlalu aktif dari anak yang hiperaktif. Hiperaktivitas ditandai dengan kegiatan yang tidak terarah dan tidak tepat. Anak yang hiperaktif tidak mampu memusatkan perhatian, impulsif dan tidak bisa diam.

Anak yang terlalu aktif biasanya masih bisa mengikuti kegiatan belajar, namun pada saat tertentu ia menjadi sangat aktif dan jika ditelusuri penyebabnya bisa dari faktor internal maupun eksternal. Faktor internal seperti kondisi emosi, kejenuhan betajar, kebutuhan akan perhatian, dtl. Sedangkan faktor eksternal bisa karena manajemen kelas yang kurang baik, pelajaran kurang menantang, ataupun karena karakteristik guru.

7. Kurang mampu berkonsentrasi

Beberapa anak kurang mampu berkonsentrasi. Anak yang kurang mampu berkonsentrasi bisa jadi memang mengatami Gangguan Pemusatan Perhatian atau attention deficit disorder), tapi juga ada kemungkinan disebabkan oleh faktor emosional ataupun terlalu banyak minat.

Rentang konsentrasi anak usia 2 tahun rata‑rata 7 menit, usia 3 tahun rata‑rata 9 menit, usia 4 tahun rata‑rata 12 menit, usia 5 tahun rata‑rata 14 menit (Schaefer Et Mittman, 1981)

Anak yang mengatami gangguan pemusatan perhatian menunjukkan semua atau hampir sernua ciri‑ciri: sering tidak bisa memberi perhatian untuk hal‑hal yang bersifat rinci dan membuat kesalahan karena peritakunya yang kurang perhitungan, sering mengatami kesutitan untuk tetap memperhatikan apa yang sedang dilakukannya, sering seolah‑olah tidak mendengar walaupun diajak berbicara secara langsung, sering tidak mampu mengikuti petunjuk dan gagal menyelesaikan tugas, sering mendapat kesutitan dalam mengatur tugas & aktivitasnva sendiri. sering menghindar atau mencoba untuk tidak melaksanakan tugas‑tugas yang memerlukan konsentrasi atau pemusatan perhatian dalarn waktu yang lama, sering kehilangan barang, mudah terganggu, mudah lupa melaksanakan aktivitas sehari‑hari, sering menggoyang‑goyangkan jari‑jari tangan dan kaki atau bergerak‑gerak di kursinya, sering berlari‑lari atau memanjati benda‑benda di tempat yang tidak semestinya, cenderung sulit bermain dengan diam, sering bergerak atau berbuat seolah‑olah dipacu mesin, sering berbicara tanpa berhenti, sering menjawab dengan cepat sebeturn pertanyaan selesai, cenderung sulit untuk menunggu gilirannya, dan sering memotong pembicaraan atau menyela permainan yang sedang berlangsung (Pentecost, 2004).

Penyebab kurangnya perhatian antara lain karena gangguan perkembangan syaraf, temperamen, gangguan perceptual (penglihatan atau pendengaran), tidak dapat membedakan antara figure dan latar belakang (misatnya tidak dapat membedakan mana suara yang bising atau mana suara guru), tidak dapat memahami keurutan seringkali bingung dan menjadi tampak seperti tidak memperhatikan. Kecemasan dan rasa tidak aman, kurangnya kernatangan emosi juga dapat menjadi penyebab kurangnya kernampuan untuk memusatkan perhatian.

8. Suka melamun
Melamun merupakan kegiatan yang wajar pada anak‑anak. Melamun menjadi masalah ketika dilakukan pada saat yang tidak tepat. Jika anak melamun sampai tidak dapat memperhatikan instruksi guru dan metaksanakan tugasnya maka melamun menjadi masatah (Schaefer Et Mittman, 1981).

Kegiatan melamun berlebihan dapat terjadi ketika realita kehidupan anak tidak mernuaskan sehingga lebih memilih berkhayal daripada memikirkan kenyataannya. Apalagi jika kehidupan sehari‑harinya membosankan. Selain itu perilaku melamun bisa jadi sebenarnya bukan melamun. Anak yang mengidap epilepsy ringan juga sering tampak seperti melamun, padahal sebenarnya pada saat itu ia sedang mengatami serangan ringan sehingga sempat kehilangan kesadaran setama beberapa detik (Woolfotk, 1995).

9. Egois

Anak yang egois hanya peduli dengan dirinya sendiri, hanya berfokus pada kesejahteraan dirinya sendiri tanpa peduti orang lain. Anak usia prasekolah umumnya masih egosentris karena dunianya masih terpusat pada dirinya sendiri (Papatia Et Olds, 1995), karena merasa dirinya dan dunia sekitarnya adalah satu. Mulai usia 4 atau 5 tahun keterampitan berkomunikasi mulai berkembang. Anak mulai sadar bahwa ada dirinya dan orang lain di luar dirinya, pada usia 5 atau 6 tahun anak menyadari bahwa peritakunya dapat berakibat pada orang lain (Papatia Et Olds, 1995).

Beberapa indikator peritaku egois yang bermasalah: interaksi dengan anak lain tidak produktif, konsep diri negatif, memandang orang lain secara negatif, tidak merasa memiliki datarn kelompok, sulit menjalin relasi dengan anak lain, tidak melihat partisipasinya dalarn ketompok sebagai “kita” metakukan sesuatu bersama‑sama tapi lebih sebagai apa yang “saya” inginkan.

Penyebab perilaku egois dapat dikarenakan berbagai ketakutan, seperti takut dekat dengan orang lain, takut ditotak, dan takut perubahan. Anak yang banyak merasakan ketakutan seringkali memandang berbagai perubahan datam hidupnya sebagai sesuatu yang mengancam dirinya. la memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya dan memahami sudut pandang orang lain dianggap sebagai suatu perubahan yang menakutkan. Anak yang egois seringkali khawatir dengan dampak‑dampak negatif dari perilakunya sehingga ia tidak mau berbagi perasaan dan ide sehingga ia terjebak dalarn suatu pola berpaku pada dirinya sendiri. Orangtua yang terlalu protektif dan memanjakan anak juga dapat membuat anak menjadi egois karena ia terbiasa menjadi pusat perhatian dalam ketuarganya. Selain itu, kematangan emosi juga berpengaruh terhadap peritaku egois. Anak yang belum dapat mengendalikan dirinya, masih impulsif akan menjadi anak yang egois.

10. Terlalu tergantung

Peritaku ketergantungan meliputi mencari perhatian, kasih sayang ataun bantuan dari orang lain secara berlebihan. Beberapa ciri‑ciri: sering merengek, menangis, dan peritaku tergantung tainnya, sering menyela pembicaraan orangtuanya, menuntut orang lain membantunya melakukan sesuatu padahal sebenarnya ia bisa melakukannya, tidak punya inisiatif, lebih menunggu bantuan orang dewasa, butuh kedekatan fisik, suka mencari perhatian atau mengharapkan orangtuanya sering mengawasinya, berbicara dengannya, melihat apa yang telah dibuatnya. Setelah usia 4 tahun jika anak masih menangis ketika ditinggal ibunya berarti bahwa ia menunjukkan perilaku ketergantungan.

Penyebab: adanya penguatan dari orangtua, rasa bersalah orangtua, pola pengasuhan yang permisif, mencari perhatian orangtua, perasaan egois, dan perasaan ditolak.
Sebagai panduan untuk melihat perkembangan anak usia prasekolah lihat lampiran: catatan kemajuan perkembangan CRI dan acuan menu pembelajaran anak usia dini.

Setain karena belum tuntasnya tugas‑tugas perkembangan pada suatu periode, masalah pada anak usia prasekolah dapat timbul karena adanya kelambatan perkembangan yang dapat berdampak pada kesulitan dalam belajar sehingga anak terhambat untuk mencapai kemajuan perkembangan. Kelambatan perkembangan dapat terjadi karena adanya kebutuhan‑kebutuhan khusus, tapi dapat juga terjadi karena buruknya stimulasi atau kurangnya kesempatan untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya (Drifte, 2003).

b. Masalah karena adanya kebutuhan khusus (Drifte, 2003)
1. Gangguan fisik, motorik atau sensori

Pertu perhatian khusus jika dalam keterampilan fisik dan motorik anak mengalami:

Ø Kesulitan dalam koordinasi tangan dan kaki
Ø Masatah datam keseimbangan
Ø Keterampilan motorik hatus dan motorik kasar yang jelek
Ø Bergerak dengan canggung (clumsy)

Kemungkinan adanya gangguan penglihatan dapat dilihat dari:

Ø Memegang buku atau objek sangat dekat dengan wajahnya pada saat mengamati objek tersebut.
Ø Selalu duduk dekat di depan untuk mendengarkan cerita atau menonton TV.
Ø sering menabrak benda‑benda
Ø kurang percaya diri pada saat bergerak di datam ruangan dan/atau menunjukkan kecemasan akan menabrak sesuatu.
Ø kesulitan untuk memfokuskan penglihatan pada suatu benda atau kesubtan dalam eye‑tracking
Ø kesulitan datam mengerjakan tugas yang membutuhkan keterampilan visual dan/atau keterampilan koordinasi mata & tangan.
Ø Gerakan mata tidak lazim, seperti bola mata selalu bergerak
Ø menunjukkan interaksi sosial yang tidak normal atau perilaku autistik
Ø posisi kepala tidak lazim
Ø terlihat juling, mata berputar‑putar, dll.

Kernungkinan adanya gangguan pendengaran dapat dilihat dari:
Ø Berkonsentrasi pada bahasa tubuh dan wajah orang dewasa di sekitarnya.
Ø Tidak mengikuti instruksi, hanya sesekati mengikuti instruksi dan/atau keliru dalam mengikuti instruksi.
Ø Tidak berespon ketika dipanggil namanya, terutarna jika yang memanggil berada di betakangnya.
Ø Memandang anak lain sebelurn bertindak, dan meniru.
Ø Dibandingkan anak lain terlihat lebih membutuhkan informasi visual dan alat bantu visual selarna beraktivitas.
Ø Berperitaku aneh atau seringkati frustrasi tanpa penyebab yang jelas
Ø Tidak bereaksi terhadap suara yang keras atau suara ramai yang tiba tiba muncul.
Ø Berteriak atau berbicara terlalu keras tanpa menyadarinya
Ø Terlambat bicara atau pernbicaraannya sulit dipahami
Ø mengubah warna suaranya saat berbicara
Ø Sulit mengerjakan aktivitas yang menuntut keterampilan mendengarkan.
Ø Menengokkan kepala ke arah pembicara saat diajak berbicara atau mendengarkan sesuatu
Ø Tampak asyik dengan dunianya sendiri atau menunjukkan perilaku autistik.

2. Gangguan emosi dan perilaku
Perhatikan anak‑anak yang menunjukkan perlaku:
Ø Agresif secara verbal dan/atau fisik terhadap anak lain atau orang dewasa
Ø Menarik diri
Ø Pencemas
Ø Terlalu cerewet dan terlalu ramah
Ø tidak sesuai dengan usianya
Ø aneh atau kurang diterima secara sosial
Ø Menyakiti diri sendiri
Ø Sulit menyelesaikan tugas, pertu dorongan dari orang dewasa
Ø mengacaukan rutinitas
Ø gagal membuat kemajuan yang diharapkan darinya
Ø sering membolos atau punya pola absen tertentu
Ø tidak dapat bekerjasama
Ø peritaku tak dapat diramalkan dan/atau sikap terhadap belajar
Ø berubah‑ubah
Ø tampak tidak tertarik terhadap kegiatan atau permainan
Ø terlalu tergantung pada orang dewasa
Ø hiperaktif
Gangguan perilaku kadangkala muncul karena adanya suatu peristiwa di rumah, misalnya: orang yang dicintai meninggal atau binatang kesayangannya hilang, kelahiran adik, dll.

3. Gangguan sosial
Pertu diperhatikan apakah anak menunjukkan:
Ø Tidak dapat bermain bersama anak lain
Ø Tidak dapat berbagi atau bergantian
Ø Keterampilan bercakap‑cakap yang buruk

4. Gangguan komunikasi
Pertu diperhatikan apakah anak:
Ø Gagap atau berbicara sangat lambat, tapi paham instruksi dan apa yang dikatakannya cukup masuk akat.
Ø Lambat bicara atau bicaranya tidak mudah dipahami
Ø Berbicara normal tapi apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan situasi yang ada.
Ø Berbicara normal tapi susah memahami apa yang dikatakan padanya dan/atau tidak berespon sama sekati pada orang tain
Ø Berbicara pada saat yang tidak tepat atau membuat komentar yang tidak sesuai
Ø Tertawa terlalu keras atau terlalu lama
Ø Sulit bergantian datarn bercakap‑cakap
Ø Menunjukkan kebiasaan ritual atau peritaku obsesi
Ø Sutit berkomunikasi melalui berbicara dan/atau bentuk bahasa tainnya.
Ø Tidak dapat berinteraksi dengan orang lain dengan bahasa verbal dan/atau nonverbal yang tepat
Ø Sulit bereaksi secara normal terhadap situasi sosial atau menghindari situasi sosial
Ø Pasif dan kurang atau bahkan tidak punya inisiatif atau rasa ingin tahu
Ø Tidak peduli terhadap orang lain
Ø Suaranya aneh, menggunakan bahasa ‘planet’ dan/atau kalimat kalimat ritual seperti dalam slogan periklanan.

5. Kesulitan belaiar spesifik

Kesulitan belajar spesifik meliputi:
kesulitan membaca (dyslexia), kesulitan menulis (dysgraphia), dan kesulitan motor persepsual(dyspraxia).

Pertu diperhatikan apakah anak menunjukkan kesutitan datam hal:

Ø Keterampilan motorik halus dan kasar
Ø Daya tangkap auditorial atau visual jika anak tidak mengatami masalah sensori. Mis: tidak dapat mengenali bentuk dengan tepat, susah menangkap bunyi atau fonem.
Ø Belajar dengan menghafat (nursery rhymes)
Ø Bergerak mengikuti irama atau kegiatan berpola
Ø Ingatan jangka pendek
Ø Keterampilan mengurutkan dan/atau keterampitan mengorganisir
Ø Interaksi verbal dan/atau mengikuti instruksi Koordinasi mata dan tangan.

Dyslexia merupakan kesulitan dengan kata‑kata atau bahasa dan membaca yang ditandai oleh (Strydom, 2004a, 2004b, 2004c):
Ø Sulit membedakan huruf b dan d, atau p dan q pada saat membaca atau menulis, jadi penggunaannya terbalik‑balik.
Ø Mengganti huruf, membaca dan menulis n sebagai u, m sebagai w, d sebagai b, p sebagai q, f sebagai t.
Ø Membaca atau kata terbolak‑balik, mis: pos untuk sop.
Ø Membaca atau menulis angka 17 untuk angka 71
Ø Mengalami kesulitan mengurutkan sehingga urutan huruf seringkali terbalik‑balik (misal sekolah menjadi sekolah, pos menjadi sop), urutan kata terbalik (misal saya pergi menjadi pergi saya ), menambahkan huruf (misal: kota → kotah,
Ø Kesulitan dengan kata‑kata sederhana, misalnya di rumah → ke rumah, menambahkan kata yang tidak ada datam teks.
Ø Kesulitan membaca atau mengeja.

Dysgraphia merupakan kesulitan dalam menulis yang ditandai oleh
(Strydom, 2004d):
Ø Tulisan yang tidak dapat dibaca
Ø Huruf yang tidak konsisten
Ø Dalam menulis mencampur penggunaan huruf besar dan huruf kecil,
Ø huruf cetak dan huruf latin secara tidak tepat
Ø Ukuran dan bentuk huruf tidak beraturan
Ø Huruf yang tidak selesai
Ø Harus berusaha keras untuk menggunakan tulisan sebagai sarana komunikasi

Dyspraxia merupakan gangguan dalam pengorganisasian gerakan yang ditandai oleh (Strydom, 2004e):
Ø Kecanggungan dalam bergerak, gerakan tidak terkoordinasi
Ø Sering kecelakaan, sering jatuh, menabrak.
Ø Koordinasi tangan ‑ mata atau kaki ‑ mata yang buruk
Ø Kemampuan yang buruk dalam: berpakaian, menalikan tali sepatu,mengancingkan baju, dll.
Ø Makan dan minum secara berantakan
Ø Mengalami kesulitan berbicara
Ø Orientasi arah yang buruk
Ø Orientasi ruang yang buruk
Ø Kemampuan mengurutkan yang buruk
Ø Ingatan jangka pendek buruk
Ø Kesulitan dalam merencanakan dan mengorganisir pikiran
Ø Kesulitan memegang pensil
Ø Kesulitan menyalin dari papan tulis
Ø Kemampuan menulis dan membaca buruk
Ø Kesulitan membaca dan menutis ­

APA YANG PERLU DILAKUKAN UNTUK DETEKSI DINI

OBSERVASI

Proses memperhatikan seorang anak metakukan kegiatan tanpa mencampuri
kegiatan anak tersebut.

PEDOMAN OBSERVASI (Children’s Resources International, 1997)

1. Tentukan waktu untuk mengamati perilaku anak. Misal: 15 menit pada saat anak bermain.

2. Yang diamati adalah peritaku anak yang dapat dilihat

3. Deskripsikan peritaku secara akurat dan rinci sesuai fakta yang teramati Misal: Abet masuk ke kelas dan langsung bercerita kepada temannya bahwa ia memiliki dinosaurus yang kecil dan lucu di rumahnya. Ketika temannya mengatakan bahwa ia berbohong Adam terus menyampaikan bahwa dinosaurusnya adatah binatang peliharaannya yang baru dan mengatakan:’kalau tidak percaya kamu tanya papa saya’.

4. Tidak metakukan penafsiran atau interpretasi subjektif dalam deskripsi perilaku (yang dipikir atau dirasa terjadi), misalnya: ‘Eni malas’ 4 ‘Eni tidak metakukan instruksi guru setiap kati guru meminta siswa untuk mengerjakan sesuatu dan Eni lebih memilih untuk tidur‑tiduran di bangku nya’.

5. Buat catatan untuk mendokumentasikan hasil observasi.

PERILAKU YANG DIAMATI (Children’s Resources International, 1997):

Bagaimana anak bereaksi terhadap hal‑hal rutin.
Bagaimana anak berperilaku pada saat perpindahan dari satu kegiatan ke kegiatan lain, periode tenang dan periode aktif, periode kegiatan kelompok dan periode kegiatan perorangan. Amati anak saat berpisah dengan orangtua, makan, menggunakan toilet, berpakaian, mencuci tangan, dan beristirahat.
Bahan apa yang digunakan dan bagaimana menggunakannya. Amati kualitas penggunaannya (apakah crayon dijepit dengan mantap), banyaknya macam bahan, penggunaan yang penuh daya khayal, tingkat keahlian, dan pengertian konsep.
Bagaimana interaksi anak dengan anak lain.
Bagaimana interaksi anak dengan orang dewasa.
Di mana anak bermain di ruangan kelas dan bagaimana ia berpindah.
Bagaimana anak menggunakan bahasa.
Bagaimana anak bergerak.
Suasana hati dan watak.
Peran anak dalam kelompok.

(Ditulis Oleh Heribertus Gunawan, untuk Orang Tua)

Menanti

Alkisah di pintu masuk kapal, berdirilah Nuh dan Yesus.
“Tuhan, saatnya kita berangkat…”, kata Nuh seraya hendak mengangkat sauh
“Tunggu dulu. Masih ada yang kita tunggu,” sahut Yesus sambil menyaksikan ke arah tangga, ”Kamu lihat, masih ada sepasang siput jantan dan betina yan sedang berjalan masuk ke kapal”, kata Yesus lagi.
”Ya, saya melihat. Tapi berapa lama lagi kita menunggu Tuhan. Bagaimana jika banjir bandang segera datang, ” Nuh mulai cemas
”Kita harus menunggu. Apapun kejadiaannya kita harus menunggu”, kata Yesus menegaskan.
Dan sepasang siput itu tetap berjalan pelan menuju ke arah pintu masuk kapal. Pelan sekali. Namun pasti. Berjalan dengan keyakinan bahwa mereka berdua tak akan tertinggal kapal. Meskipun tidak tahu dan tidak melihat, bahwa di pintu masuk Yesus masih setia menunggu.
Masa adven adalah masa penantian. Adven memiliki akar kata bahasa Latin, ad venire, yang artinya menantikan kedatangan. Adven kemudian dimengerti sebagai masa penantian, ialah penantian kedatangan. Kedatangan siapa ? Ya, kedatangan Yesus di Hari Raya Natal.
Di masa penantian kedatangan, kita menempatkan diri sebagai subyek. Kita menantikan Yesus yang akan dirayakan di Hari Raya Natal. Yesus sebagai obyek. Satu-satunya modal berharga kita di masa penantian, persis seperti sepasang siput itu, ialah iman dan keyakinan.
Betapa berharganya iman itu. Dan betapa kita seharusnya mengucap syukur masih memiliki iman. Iman itulah yang tanpa sadar menggerakkan kita untuk melakukan serangkaian persiapan. Entah persiapan lahir maupun persiapan batin. Tanpa iman, tidak mungkin kita repot-repot, mengeluarkan tenaga, waktu dan biaya untuk menyambut Hari Raya Natal. Memang, tanpa iman sebenarnya kita bisa melakukan itu semua, namun apa artinya ? Apa bedanya dengan orang-orang beriman yang bisa melakukan kebaikan yang sama ? Lebih aneh, jika kita memiliki iman menantikan kedatangan Yesus, tetapi tidak melakukan apa-apa.
Dalam konteks persiapan secara batin, telah berlangsung Minggu Adven yang akan berakhir pada Minggu Adven yang keempat. Di lingkungan-lingkungan telah difasilitasi dengan ibadat Adven. Secara khusus, akan diadakan penerimaan sakramen rekonsiliasi yang menyempurnakan masa penantian dengan kembali berdamai dengan Allah. Perdamaian dengan Allah diwujudkan secara nyata dalam bentuk silih. Rupa silih atas perdamaian dengan Allah tampak dalam konteks persiapan lahir. Bentuknya yaitu berbuat amal dan kebaikan. Pengedaran amplop aksi Natal perlu dimaknai sebagai sarana pertobatan itu. Berdamai dengan Allah, konsekuensinya berdamai dengan sesama dalam karya amal kasih.
Kembali kepada kedua siput dalam kisah di atas. Mereka berdua seperti kita yang memiliki iman menantikan saatnya kedatangan Tuhan. Namun sebenarnya, jelas sekali siapa yang menanti, siapa yang menjadi subyek dan obyek. Yesus adalah subyek, kita inilah obyek yang dinantikanNya. Yang sebenarnya menanti ialah Yesus sendiri. Yesus menanti meskipun kita berjalan sangat lambat. Yesus tetap setia menunggu, meskipun kita tahu jenuhnya menunggu. Ia mendahului kita menjadi manusia dalam misteri inkarnasi. Yesus mau menjadi manusia untuk memberi tahu kepada kita jalan keselamatan. Yesus telah lebih dulu menunggu di depan pintu. Yesus telah lebih dulu menanti dengan sabar. Sayang sekali kita tidak melihatnya ketika repot dengan berbagai urusan.
Hari ini kita memasuki Minggu Adven ketiga. Masih ada kesempatan. Ia masih menunggu dan memberi kesempatan kepada kita. Kesempatan untuk berdamai dengan Allah, kesempatan untuk berdamai dengan sesama, kesempatan untuk berbuat silih, kesempatan untuk memperbaiki diri agar pantas merayakan Natal dengan damai dan gembira. Belum terlambat. Yesus pun masih setia menanti, ketika kita berpikir bahwa kitalah yang menatikanNya.
Rm. A. Luluk Widyawan, Pr

MENGALAH UNTUK MENANG

Begitu mudah bagi kita untuk mengatakan, bahwa kita bisa bersikap mengalah. Namun pada kenyataannya, hal itu sulit sekali untuk dipraktekkan.Terbukti, lihat saja pertengkaran yang masih terjadi sampai sekarang ini.Sebut saja terjadinya pertengkaran, entah itu pertengkaran antar suami isteri, atau terjadinya tawuran pelajar. Begitu pula kita sering mendengar berita tentang sebuah keluarga yang saling membunuh antar sesama keluarganya hanya karena berebut harta warisan. Apalagi penyebabnya kalau bukan di antara mereka yang tidak mau mengalah.

Mengapa pertengkaran itu bisa terjadi? Sebab salah satu pihak tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing pihak maunya menang sendiri. Mereka bersikap egois, mau menang sendiri dan tidak mau berinisiatif untuk meredakan kemarahan. Hal inilah yang menimbulkan pertengkaran yang hebat.

Mengapa seseorang tidak bisa memiliki sikap mengalah? Karena mereka menilai dari cara pandang yang salah. Mereka beranggapan, bahwa orang-orang yang mengalah menjadikan dirinya sebagai orang-orang yang kalah. Bisa juga hal ini terjadi karena tidak mau melepas segala hak demi orang lain, karena takut, tidak mau dirugikan orang lain, atau yang lebih parah lagi karena keegoisan kita. Kita lebih mudah mengalah terhadap perbuatan-perbuatan kedagingan kita.Buktinya, banyak orang-orang percaya yang lebih mudah mengalah (tunduk) pada iblis atau dosa. Akhirnya mereka terjerumus pada perbuatan dosa. Mereka mengalah pada iblis akhirnya mereka menjadi kalah! Tetapi mengalah untuk kebenaran, mengalah karena memang benar-benar kita tidak memiliki sikap egois atau menang sendiri sepertinya hal itu sulit kita lakukan. Sebagai orang percaya sudah seharusnya kita memiliki sikap mengalah.Ada beberapa hal yang patut kita renungkan, mengapa orang percaya harus memiliki sikap mengalah.

Satu, Mengalah merupakan bagian dari karakter Allah [Filipi 2:6-7]. Kematian Tuhan Yesus di kayu salib merupakan bukti, bahwa IA memiliki teladan dalam hal mengalah. Ia rela mengalah bukan saja menderita, melainkan mati bagi kita agar mau dikalahkanNya. Sekalipun Yesus mendapatkan caci maki, ejekan, hinaan, olokan dari sikap mengalah yang dimilikinya akhirnya membuat semua orang diselamatkan dari maut. Saudara, kalau Yesus saja yang saat itu sedang mengalami konflik dengan orang-orang yang membenci diriNya saja, bisa mampu bersikap mengalah pada mereka. Mengapa kita tidak bisa meneladani sikap Yesus yang mulia itu? Dalam hidup memang kadangkala kita menghadapi berbagai konflik.Jangankan dengan orang lain, dengan sesama anggota keluarga kita pun kita pernah mengalami konflik dengan mereka. Mungkin saat ini kita sedang mengalami pertengkaran dalam keluarga. Kita menjadi suami yang tidak mau mengalah dengan isteri. Atau kita menjadi kakak yang tidak mau mengalah dengan adik kita. Ingatlah, bahwa Firman Tuhan hari ini menegur agar kita meneladani Yesus yang memiliki kerendahan hati. Mintalah kuasa Roh Kudus mematahkan setiap ke-aku-an kita. Hancurkan anggapan, bahwa diri kita harus lebih dari orang lain atau merasa diri paling benar dari yang lain, sehingga kita berlaku egois terhadap mereka.

Dua, Mengalah bagian dari Iman untuk menantikan berkat-berkat Allah [Kejadian 13:7-13]. Tokoh Kitab Suci/Alkitab yang memiliki teladan dalam sikap mengalah adalah ABRAHAM. Dalam Kejadian 3:7-13 ini diceritakan terjadinya pertengkaran antara gembala-gembala Abraham dan Lot, karena tempat yang semakin terbatas. Akhirnya Lot memiliki Lembah Yordan, tempat yang lebih baik yang banyak airnya. Sedangkan Abraham menetap di tanah Kanaan. Abraham sebenarnya berhak atas tanah warisan itu, tetapi Abraham rela mengalah dan memberikan tanah itu kepada Lot. Apa yang terjadi? Tuhan memberikan seluruh negeri itu kepada Abraham dan kepada seluruh keturunannya [Kejadian 13:14-16]. Warisan itu diberikan kepada Abraham setelah ia bersikap mengalah kepada Lot.

Abraham melakukan sikap yang terpuji dan karena Imannya, ia rela melakukan hal tersebut.
Saudara, selama kita masih mempertahankan milik kita dan tidak mau memiliki roh yang mau mengalah, tetapi roh yang suka merebut dan tidak rela melepaskan hak, kita tidak akan pernah meraih berkat-berkat Allah. Orang yang mengalah adalah orang percaya dan menaruh imannya pada Allah, serta mempercayakan seluruh persoalannya pada Allah. Bukti lain yang menunjukkan, bahwa Abraham memiliki sikap mengalah adalah ketika Allah menyuruh Abraham untuk mempersembahkan Ishak. Allah menyuruh Abraham untuk pergi ke Tanah Moria untuk mempersembahkan Ishak di sana sebagai korban bakaran [Kejadian 22:2]. Bagi Abraham dan Sara yang baru saja dikaruniai seorang anak, bukan merupakan hal yang mudah bagi mereka untuk mempersembahkan anak mereka satu-satunya itu. Tetapi apa yang dilakukan Abraham itu luar biasa. Ia melakukan apa yang diperintahkan Allah dengan segera [Ibrani 22:3,9]. Inilah bukti Abraham adalah orang yang mampu bersikap mengalah dalam situasi apapun. Abraham merelakan Ishak, sehingga ia menerima kembali seorang Ishak yang telah dilipat gandakan, sampai tidak terhitung lagi banyaknya. Terkadang kita tidak mau bersikap seperti Abraham. Kita tidak mau mengalah karena kita takut kehilangan segala sesuatu yang kita miliki, sehingga kita sering memegang erat-erat “Ishak” kita. Akhirnya kita kehilangan berkat yang telah disediakan Allah.

Tiga, Sikap mengalah merupakah ciri orang yang lemah lembut. Orang yang mengalah menandakan dirinya memiliki sikap lemah lembut. Itu yang menyebabkan dia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi mengalahkah kejahatan itu dengan kebaikan. Firman Tuhan dalam Matius 5:39 berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berikan juga kepadanya pipi kirimu”. Itulah makna kelemahlembutan.

Empat, Mengalah menandakan kita memiliki penguasaan diri. Ketika kita belum mampu memiliki sikap mengalah dengan orang lain, berarti kita belum bisa menguasai diri. Kita belum bisa mengalahkan segala keinginan kita, masih
egois. Kalahkan sifat yang tidak mau mengalah itu, gantilah dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan.
Jika selama ini kita masih mengeraskan hati, dalam arti kata kita masih suka bersikap egois, mau menang sendiri, hanya karena harga diri kita lantas menjadi sombong dan tidak mau mengalah, berubahlah. Berdoa dan minta kuasa Roh Kudus untuk mengubah hati kita, sehingga karakter kita berubah. Sebab hanya orang yang dikuasai Roh Kuduslah yang memampukan dia bersikap rendah hati dan rela mengalah untuk menang.

Ketika kita mengalah, kita sedang menaruh iman kita kepada Tuhan dan siap menerima segala janji-janji Allah. Ketika kita mengalah, kita sedang meneladani sifat Allah yang sangat mulia. Mengalah bukan berarti kalah. Di
mata manusia, sikap mengalah itu tandanya kalah, tapi tidak di mata Allah.

Mengalah itu indah. Justru dibalik mengalah itu, kita sedang menantikan kemenangan yang IA berikan kepada kita.
Tuhan memberkati!

Membina Anak Hari Ini

Harus diakui, jumlah anak di Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo sangatlah banyak. Data kasar menunjukkan, setiap perayaan Natal dan Paskah harus disediakan bingkisan Natal sebanyak 1.500 bungkus. Hampir setiap bulan ada 10-15, anak-anak dibaptis menjadi warga Gereja baru.

Dalam kunjungan ke wilayah-wilayah, banyaknya jumlah anak ini juga terungkap. Sayang, data pasti dan mendekati sekalipun belum bisa didapat. Memang, salah satu kelemahan ada perkara data. Di beberapa wilayah, banyaknya anak diikuti dengan pembinaan BIAK yang bagus. Hal ini tentu menggembirakan. Namun di beberapa wilayah lainnya, banyaknya anak justru diikuti dengan pembina yang loyo. Padahal dalam catatan, ada 100 orang yang pernah diikutkan dalam Sekolah Bina Iman yang difasilitasi Keuskupan. Rupanya, perlu ada keaktifan bagi pembina anak-anak untuk kembali memperhatikan mereka.

Selain itu, anak-anak dianggap sebagai faktor ketidak-khusukan misa pada misa Minggu. Anak-anak dianggap sebagai sumber keributan, suka berlari-lari, berjalan-jalan ke panti imam dan membuat suasana misa tidak mengenakkan bagi umat tertentu. Hal ini kembali mencuatkan wacana untuk memperhatikan anak-anak, khususnya pada saat misa.
Beberapa cara sudah ditempuh, mulai dari menempatkan mereka di luar, lalu ke pinggir semakin dekat dengan toilet yang tidak mengenakkan bagi anak. Selain upaya mengadakan sekolah minggu pada misa kedua jam 08.00. Rupanya tidak ada artinya bagi sebagian orang, bahkan ada yang memilih misa di tempat lain, daripada misa di Parokinya sendiri. Ada pula tawaran memfungsikan para petugas tata tertib. Usulan ini bisa saja diterima, tanpa meninggalkan pembinaan dari dalam yang menekankan kalau anak ke Gereja untuk misa, berdoa. Dan lagi ke Gereja berbeda dengan pergi ke Mal atau ke alun-alun.

Akhirnya muncul wacana pembinaan dan penanaman nilai serta betapa pentingnya peran orang tua untuk menjadi pembina utama bagi anak. Anak harus disadarkan bahwa ke Gereja untuk menghadap Tuhan dan berdoa, selama misa anak harus didampingi, ditegur dan diarahkan supaya bis mengikuti misa dengan baik.

Orang tua memang pada lapis pertama pembinaan dan pendampingan iman anak. Ada lapis lain yang harus ditempuh, ialah melalui pendidikan agama / iman di sekolah masing-masing. Maka, sekolah harus memberikan pengajaran agar anak-anak tahu apa artinya mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja. Tak kalah pentingnya, pembinaan melalui bina iman anak. Maka, dalam konteks paroki, anak-anak menjadi tanggungjawab lingkungan dan wilayah masing-masing serta Sub Seksi Bina Iman Anak Paroki untuk mendapatkan pembinaan.

Anak-anak bagaimanapun adalah masa depan Gereja. Anak adalah aset. Anak sebenarnya jauh lebih mudah dibina dan diarahkan. Berbeda dengan orang berusia 26 tahun ke atas yang memang secara teori sangat sulit untuk berubah. Maka, kesempatan yang baik ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendampingi anak-anak. Mumpung mereka masih anak-anak, masih bisa dibina dan diarahkan. Yesus sendiri mengatakan, “Biar anak-anak, datang kepadaKu”. Kita sebagai umat paroki hendaknya menjadi fasilitator agar anak-anak dapat berjumpa dan bertemu Yesus, dalam arti mengalami Yesus dalam masa kecil mereka. Kelak, jika mereka menjadi remaja dan dewasa, mereka akan melihat sendiri, betapa berharga dan berartinya pembinaan di masa anak-anak mereka. Hal itu akan membekas dalam kehidupan mereka yang berakibat positif dalam perjalanan iman mereka berikutnya. Dengan demikian, pembinaan anak di masa kini, adalah terwujudnya Gereja yang berkualitas di masa depan.

Ada 2 hal yang penting dalam pedagogi anak, yaitu pendekatan positif dan teladan. Pendekatan positif didasarkan pada Allah menghadapi anak-anakNya selalu dengan bersikap positif, dengan menaruh kepercayaan baik, dengan kehendak baik. Bersikap positif dalam arti menghargai lebih dahulu nilai-nilai positif yang ada dalam diri anak-anak, menaruh harapan akan potensi mereka, peka terhadap kemampuan-kemampuan mereka. Ini merupakan hal dasar yang mereka miliki inilah yang kemudian dikembangkan, ditambahkan, digandakan, dibantu pertumbuhannya. Hindarilah mengatakan atau memarahi anak-anak dengan teriakan-teriakan: bodoh, otakmu kosong, kampungan, tolol dan lain-lain. Teladan, bukan instruksi merupakan sikap Yesus sendiri. Yesus banyak perumpamaan dalam pengajaranNya, namun lebih banyak pula ia menggunakan contoh-contoh konkret bahkan mempraktekkan langsung apa yang diajarkan. Ini sangat penting dalam bina iman anak. Mereka tidak membutuhkan kuliah tentang Allah pengampun, Allah rahim, tetapi mereka memerlukan bagaimana mengalami pengampunan, kerahiman itu, entah lewat perilaku sang guru dan contoh / kesaksian hidup yang nyata. Tuhan itu kongkrit, iman itu kongkrit, bukan teori, bukan angan-angan, bukan impian. Katekis, pembina BIAK, orang tua, guru yang tak mampu memberikan contoh adalah guru yang gagal dan tidak mampu mengajarkan Tuhan yang konkret.

Rm. A. Luluk Widyawan, Pr

DIALOG TAKJIL

Salam damai. Sungguh menggembirakan menyaksikan setiap hari selama bulan Ramadhan, umat Katolik St. Maria Annuntiata membagikan takjil gratis di depan Gereja. 12 Wilayah, 2 Sub Seksi dan 5 Organisasi di bawah naungan Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo saling bahu membahu di bawah koordinator Seksi Hubungan Antar Agama Dan Kepercayaan (HAK) telah melaksanakan kegiatan tersebut.

Satu wilayah saya temui, untuk menyiapkan sebungkus ketan, roti, aqua mengeluarkan biaya @ Rp. 2.000,-. Wilayah lain menyiapkan sebungkus es kelapa muda, dan dua jenis roti mengeluarkan dana yang tak jauh berbeda. Selama berlangsungnya kegiatan, rata-rata komposisi paketnya hampir sama. Rata-rata semua menyediakan jumlah yang sama, 250 paket takjil. Bahkan ada yang lebih hingga mencapai 300-350 paket.

Bagi wilayah yang kas keuangannya banyak memang tidak jadi masalah. Apalagi jika anggota wilayahnya boleh dikatakan cukup. Menariknya, ada satu wilayah yang sering mengatakan wilayahnya berbeda dari yang lain, dalam arti kondisi keuangannya minim pun, tetap berpartisipasi membagikan takjil. Entah darimana datangnya dana tambahan, padahal dari seksi HAK Dewan Paroki hanya memberikan subsidi Rp. 100.000,-.

Sejak awal ketika bertemu dengan para ketua wilayah atau yang mewakilinya, juga kelompok lainnya, saya mengatakan kegiatan ini positif dan mendukungnya. Jika seluruh wilayah mendukung, sebagaimana yang sudah terjadi, berarti apa yang dimulai Seksi HAK mendapat dukungan. Pada kesempatan membagikan takjil, saya sempat menyaksikan semua berlangsung dengan baik. Tidak ada masalah dan keluhan yang berarti. Artinya memang kegiatan ini, secara intern memang baik.

Lalu bagaimana dengan tanggapan secara ekstern. Koordinator acara ketika akan meminta dukungan Ketua RT pun disarankan tidak perlu membuat surat. Karena Ketua RT meyakinkan bahwa kalau kegiatan itu baik mempersilahkan saja. Beliau bahkan mengatakan bahwa apa yang dilakukan, dalam kacamata umat Islam, pasti mendatangkan pahala.

Lain lagi pendapat Bapak Kepala Badan Kesatuan Bangsa Dan Lintas Masyarakat (Bakesbanglinmas) yang datang menyaksikan langsung pembagian takjil dan berkunjung ke pastoran, didampingi Ketua Walubi Sidoarjo yang kebetulan juga pengurus Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB), Kabupatan Sidoarjo. Mereka berdua tertarik dan sangat mendukung kegiatan ini. Bahkan, secara khusus mereka berniat menjadikan kegiatan di depan gereja kita sebagai pilot project percontohan untuk kegiatan Ramadhan di masa mendatang. Tanpa ragu-ragu mereka meminta lembaran proposal kegiatan ini. Mereka mengapresiasi kegiatan ini sungguh memberi warna positif dalam konteks membina hubungan antar agama.

Kawan-kawan muda Pergerakan Muda Islam Indonesia (PMII) menilai bahwa kegiatan itu sebagai satu-satunya di Sidoarjo. Dalam pengamatan mereka, hanya Gereja Katolik yang melaksanakan kegiatan membagikan takjil setiap hari, selama bulan Ramadhan. Mereka pun sangat aspresiatif menyaksikan umat Katolik memiliki kegiatan semacam ini. Padahal di kalangan umat Islam sendiri, kegiatan itu belum menjadi kegiatan yang terprogram dengan baik, bahkan tidak ada yang rutin setiap hari.

Lepas dari kebanggaan memuji diri berlebihan (oratio pro domo), saya menilai kegaitan ini positif sekaligus membanggakan. Di empat paroki lain yang saya tempati, belum pernah ada kegiatan rutin, semacam ini setiap hari selama Ramadhan. Lebih dari itu, meskipun tidak wah dan sangat sederhana, kegiatan ini merupakan dialog karya yang sangat efektif untuk menjalin persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama.

Dalam Surat Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Bersgama, Pesan Untuk Akhir Bulan Ramadhan, Idul Fitri 1428 H / 2007, Jean-Louis Kardinal Tauran (Ketua) dan Uskup Agung Pier Luigi Celata (Sekretaris) mengatakan, “Hal yang patut diperhitungkan adalah: tuntutan bahwa suatu budaya damai dan solidaritas antarmanusia dapat dibangun, di mana setiap orang dengan teguh dapat terlibat untuk membangun masyarakat persaudaraan yang semakin meluas. Sebagai umat beragama yang beriman, adalah kewajiban kita semua untuk menjadi pembina-pembina perdamaian, hak-hak azasi manusia dan kebebasan yang menghargai setiap pribadi, tetapi juga untuk menjamin semakin kuatnya ikatan-ikatan sosial yang ada, karena setiap orang harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi. Bersama-sama, sebagai warga dari pelbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk menyebar-luaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia sesama ciptaan, suatu warta cinta-kasih baik antar-pribadi maupun antar-bangsa. Pertama-tama hal ini menjadi tanggungjawab keluarga-keluarga, kemudian juga mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, dan tentu saja juga para pemuka masyarakat, baik sipil maupun keagamaan. Dalam semangat yang seperti itulah upaya dan peningkatan dialog antara Umat Kristiani dan Umat Islam harus dianggap penting, baik dari sudut pandang pembinaan maupun dari sudut pandang budaya. Dengan demikian maka dapat dikerahkanlah segala kekuatan untuk pelayanan bagi umat manusia dan kemanusiaan. Dialog adalah sarana yang dapat membantu kita untuk melepaskan diri dari lingkaran konflik yang tak berujung dan pelbagai ketegangan yang menandai masyarakat kita saat ini, sehingga semua bangsa dapat hidup dalam ketenangan dan kedamaian serta dengan saling menghargai dan terpadu dalam keharmonisan di antara kelompok-kelompok yang membentuk mereka”.

Sambutan Dewan Kepausan yang diserukan dari Vatikan, Italia dan kegiatan pembagian takjil di Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo, ibarat tumbu oleh tutup. Jika ditanya, apa makna atau nilai kegiatan membagikan takjil ? Penerusan budaya damai, solidaritas, penguatan ikatan-ikatan sosial, penghormatan semua manusia sesama ciptaan, warta kasih, dialog, ketenagan, kedamaian, keharmonisan, itulah nilai-nilai positif yang telah ditawarkan dan akan terus diperjuangankan. Bukan hanya di depan gereja sebagai satu “show” kesatuan Umat Katolik, namun hendaknya menetes ke wilayah, lingkungan dan keluarga kita masing-masing. Dialog takjil, jika boleh saya menyebutnya demikian, sebenarnya bukan barang mewah, karena harganya satu paket, tak lebih dari Rp. 2.500 – 3.000,-. Bukan pula diskusi otak, karena tak perlu mengerutkan dahi, melainkan hanya mengandalkan ketulusan dan senyuman ketika membagikan. Bahkan bukan dialog teologis, yang justru hanya berdebat dan saling membenarkan ajaran agama masing-masing. Dialog takjil, dengan demikian merupakan dialog karya yang nyata meskipun sederhana, yang punya daya meskipun kita menganggapnya biasa dan tak sempurna. Yang lain, mungkin melihat dengan sebelah mata. Tetapi justru ada orang bukan Katolik yang melihatnya dengan dua mata. Selamat berlibur, selamat mudik.

Rm. A. Luluk Widyawan, Pr

Selamat datang Rm Luluk dan selamat berkarya di Paroki

tanggal 7 Agustus 2007 yang lalu telah dilaksanaka serah terima jabatan Romo Kepala Paroki dari Romo Senti diserah terimakan ke Rm Luluk dihadapan rapat pleno Dewan Paroki dihadiri Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono Pr, Romo Damar Cahyadi, dan Rm Karolus

Rm CB Senti Fernandez Pr menandatangani surat serah terima jabatan

Rm Antonius Luluk Widyawan Pr menanda tangani surat serah terima jabatan

Serah terima dilakukan dihadapan Uskup Surabaya.



Seminari Sebagai Jantung Keuskupan

Saudara-saudari dalam Kristus,
Paus bersama para Uskup sedunia lewat Dekrit tentang Pembinaan calon Imam menegaskan bahwa “Seminari adalah Jantung Keuskupan”. Jantung adalah organ tubuh yang sangat penting sehingga tanpa jantung yang baik, tubuh akan kehilangan tenaga, menjadi lemah dan bahkan mati. Semua organ tubuh kita penting dengan caranya sendiri menunjang kehidupan seluruh tubuh. Tetapi ada yang sangat sentral dan penting. Salah satunya adalah : jantung, karena itu setiap orang akan berusaha supaya jantungnya selalu sehat. Seminari adalah jantung keuskupan. Dengan ini diungkapkan bahwa pendidikan calon imam dan imam itu sendiri sangat penting bagi Gereja pada umumnya dan Keuskupan pada khususnya. Tanpa imam atau hierarki, Gereja kehilangan unsur pemersatunya, penggembala, pengajar dan pengudusnya. Karena itu perlu dibangun seminari di setiap Keuskupannya sejauh memungkinkan dan seminari yang sudah ada perlulah dijaga kelangsungan hidupnya. Masalah kita adalah dari 32 Seminari Menengah di Indonesia hampir 90% menderita kekurangan, bahkan amat rendah mutunya dibidang fasilitas belajar dan pembinaan kepribadian serta rohani, dengan gedung-gedung tuanya yang merana dan memprihatinkan termasuk kekurangan gizi. Dari kurang lebih 4200 siswa ada 1859 yang membutuhkan beasiswa. Banyak tenaga pengajar yang baik pindah ke sekolah lain karena seminari tidak mampu membayar gaji yang layak. Bagaimana bisa diharapkan hasil yang maksimal dari para calon pemimpin Gereja Indonesia? Syukur kepada Tuhan bahwa di Indonesia, panggilan calon Imam relative masih banyak. Ini membuktikan bahwa Gereja di Indonesia masih hidup. Dan tugas kita bersama untuk membantu dan memelihara Seminari-seminari yang ada di Indonesia, agar tidak mati, agar tidak menghasilkan imam yang kurang bermutu. Gereja membutuhkan bantuan setiap umat Katolik Indonesia berupa : doa untuk panggilan, usul dan saran yang berguna demi pengembangan pendidikan dan pembinaan di seminari serta bantuan dana. Doa merupakan salah satu hal dasar yang harus dilaksanakan sesuai permintaan permintaan Yesus sendiri : “Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu (Mat 9:38)”. Doa harus dikombinasikan dengan pemberian usul serta saran. Doa dapat disempurnakan dengan memberikan dana atau derma. Doa harus mengiringi setiap pemberian usul, saran, dan dana. Berikut kutipan dari ketua komisi seminari KWI: “Sebagai Ketua Komisi Seminari KWI, saya meminta supaya kita semua berdoa untuk untuk panggilan. Saya meminta usul dan saran yang berguna demi pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan seminari kita. Kepada umat yang mempunyai dana atau materi lainnya, saya menyampaikan permohonan untuk memberikan bantuannya dengan murah hati, karena banyak ‘Jantung Gereja’ yang hampir tidak bisa berdenyut wajar. Akhirnya atas nama semua Uskup, rekan-rekan di Komisi Seminari KWI dan relawan-relawati Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari (GOTAUS), saya menghaturkan berganda terima kasih kepada semua donatur, atas segala yang telah dan akan diberikan demi peningkatan mutu pendidikan calon imam kita.” Hilarius Moa Nurak, SVD.