PENDIDIKAN MEDIA

Pada tangal 24 Januari 2007, Paus Benediktus XVI mengeluarkan pesan komunikasi bagi seluruh umat manusia yang berkehendak baik, dan secara khusus untuk umat katolik sejagat dalam rangka Hari Komunikasi Sedunia ke-41 yang dirayakan pada 20 Mei 2007. Dengan mengambil tema ‘Anak-anak dan Media: Sebuah Tantangan bagi Pendidikan’, Sri Paus mengajak umat kristiani untuk merenungkan dan merayakan peranan media komunikasi dalam pendidikan anak. Dalam tema itu termuat dua pikiran dasar yang patut mendapat perhatian gereja, yakni pendidikan anak dalam hubungan dengan realitas yang diciptakan oleh media komunikasi ( realitas mediasi atau realitas representasi), dan yang berikut adalah peran media sebagai penanggungjawab perkembangan hidup anak.

Pendidikan Anak dalam kaitannya dengan realitas mediasi

Kita sepakat, bahwa ketiga institusi tradisional yakni keluarga, gereja dan sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya pencari, pengumpul dan penyaji informasi bagi masyarakat dan anak-anak. Kalau dahulu, seorang anak usia sekolah yang inosen, ragu-ragu dan membutuhkan suatu kejelasan tentang hal yang tak terpahami, ia berlari ke orang tua, bereferensi kepada ajaran-ajaran sekolah dan merujuk kepada nilai-nilai agama untuk menemukan jalan keluar. Kini, peran ketiga institusi itu diambil alih bahkan dengan cara yang lebih profesional oleh media komunikasi. Bisa terjadi bahwa seorang yang tamat SMU melalui pendidikan formal tidak memiliki cakupan pengetahuan yang melebihi seorang yang hanya menamati Sekolah Dasar tetapi mengetahui hampir lebih banyak hal dari sajian media komunikasi modern. Jangan heran bahwa peran guru sekolah kini menjadi lebih berat karena ia akan dipertemukan dengan para murid yang datang dengan sejumlah informasi dan pengetahuan berbasis media (koran, majalah, radio, televisi dan internet). Maka mau atau tidak, seorang guru di jaman information booming seperti sekarang ini dituntut untuk tanggap dan sigap dengan hadirnya jenis murid yang baru itu. Peran monolitik lembaga tradisional sebagai  pewaris nilai dan pengetahuan menjadi direlativisir bahkan ditinggalkan. Dengan perkembangan media internet, semua lembaga itu menjadi berantakan. Silahkan mencermati mesin ‘google’, garasi informasi terbesar dalam dunia maya. Di sana semua informasi tentang apa saja dan dimana saja akan dihadirkan untuk bisa diakses dengan harga paling rendah malah secara gratis. Ensiklopedi dan kamus mulai ditinggalkan. Google menjadi ‘buku pintar’ pencari informasi yang tercepat, termudah dan terbaru mengikuti metodologi jurnalisme yang andal. Makanya, tak pelak, orang menyebut sebagai ‘profesor google’. Informasi yang disajikan sangat diversifikatif karena berasal dari sumber yang beragam dengan idiologi yang juga beragam. Anak-anak akan terombang ambing untuk menentukan mana yang benar, mana yang baik untuk dicerna, dipercayai dan ditiru. Tak ada panduan moral untuk itu. Dan tanpa satu wadah diri yang kuat, anak-anak akan sangat mudah terjerumus dalam informasi yang dapat mencelakakan diri sendiri dan melecehkan orang lain. Jati diri mereka akan dibentuk berdasarkan realitas yang disajikan oleh media. Dan dalam situasi seperti itulah, pesan Paus Benediktus XVI menjadi sangat penting ketika ia mengajak ketiga lembaga tradisional itu untuk mengambil alih tanggungjawab mereka terhadap pendidikan anak dan tidak ‘mempersembahkan’ tanggungjawab itu melulu kepada media massa modern. Demikian Sri Paus menandaskan:  ‘Mendidik anak-anak agar mereka dapat memilih dengan baik pemanfaatan media adalah tanggung jawab orangtua, Gereja dan sekolah. Peranan orangtua adalah yang paling penting. Mereka mempunyai hak dan kewajiban untuk memastikan, bahwa anak-anak mereka memanfaatkan media dengan bijak, yakni dengan melatih hati nurani anak-anak agar dapat mengungkapkan secara sehat dan objektif penilaian mereka yang nantinya akan menuntun mereka untuk memilih atau menolak acara-acara yang tersedia.’ (Pesan Paus Benendiktus XVI,  pada Hari Komunikasi Sedunia ke-41)

Peran media sebagai penanggungjawab perkembangan hidup anak

Pengalaman sejarah membuktikan bahwa salah satu tantangan terbesar bagi media komunikasi untuk mengembangkan jurnalisme berkualitas selalu terhambat dengan idiologi kapitalis yang berada di belakangnya. Kalau mau berkualitas, diperlukan biaya produksi yang mahal. Untuk bisa mendanai mahalnya suatu industri media, peranan para kapitalis (pemilik modal) menjadi sangat penting. Idiologi kapitalis akan turut dimasukkan seiring dengan jumlah sumbangan modal yang diberikan. Kualitas berita dan pesan media perlahan-lahan mulai ditunggangi oleh idiologi-idiologi yang mendanai terciptakan program program itu. Bila media massa mulai masuk dalam industri, dan nilai ekonomi mulai menjadi wacana tandingan maka, nilai-nilai etika menjadi goncang. Idealisme tentang independensi media komunikasi hanyalah ilusi. Lihat saja, berapa banyak televisi yang bernuansa pendidikan murni yang masih bertahan. Bahkan televisi-televisi komersialah yang kini menjadi pendidik alternatif bagi anak-anak jaman sekarang ketimbang televisi pendidikan.  Paus Benediktus XVI menyadari persoalan ini ketika menandaskan bahwa ‘Sambil menegaskan keyakinan, bahwa banyak orang yang terlibat dalam komunikasi sosial berkemauan untuk melakukan apa yang benar (lih. Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Ethics in Communications, 4), kami harus juga mengakui, bahwa mereka yang bekerja di bidang ini berhadapan dengan ”tekanan psikologis khusus dan dilema-dilema etik” (Aetatis Novae, 19), karena adakalanya mereka harus menyaksikan bahwa persaingan komersial telah memaksa para komunikator untuk menurunkan standar mutunya.’ (Pesan Paus Benediktus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia, 2007)

Bagaimana dengan Komunikasi Gereja?

Media teknologi modern memiliki stuktur, cara operasional, logikanya sendiri.  Sebagai media massa, struktur dan operasionalnya telah ditata sedemikian rupa sehingga ia bersifat tunggal arah dan berdampak massal. Dalam model komunikasi yang demikian, titik perhatian komunikasi terarah kepada pengirim pesan, perancang media ( media maker) dan media yang dipakai untuk menyalurkan pesan-pesan itu. Riset khalayak hampir tidak pernah  diperhitungkan atau kalau diperhatikan toh melulu sebagai pangsa pasar (sejauh mereka bernilai dalam mengkonsumsi produk media massa). Dengan demikian, apa yang menjadi kebutuhan khalayak bukanlah menjadi variabel. Dengan cara demikian, media massa memiliki potensi dalam proses peminggiran (marjinalisasi) khalayak  teristimewa kaum miskin. Untuk itu, pada hemat saya, dua unsur berikut ini perlu mendapat perhatian secara khusus dalam komunikasi gereja dewasa ini. Pertama, memanfaatkan  daya media massa modern yang ada seperti radio, televisi, multimedia, internet. Karena sebagai piranti, media-media itu telah memiliki hubungan psikologis yang sangat erat dengan khlayak berbagai usia dan jenis kelamin. Karena itu tidak ada alasan untuk menolak menggunakannya. Yang perlu diperhatikan gereja dan para pelaku media adalah memasukan nilai-nilai manusiawi dan kristiani sesuai dengan struktur dan logika, seturut kekhasan kemasan media massa, sesuai dengan ‘ekosistem’ media massa. Karena seringkali terjadi bahwa pesan-pesan gereja tidak dikemas secara baik, ada kesan tergesa-gesa, improvisasi dan linear, berat pesannya, segala-galanya mau dimasukkan sekaligus dan berdurasinya panjang, dijejali dengan berbagai norma dan doktrin dalam bentuk rumusan (statement) dan bukan dalam bentuk nilai (value)  dengan akibat khalayak menjadi jenuh dan bosan.Kedua,  Memberdayakan media alternatif yang lasim dikenal sebagai media komunitas seperti teater rakyat, wayang, drama, poster, selebaran, forum diskusi, dan folkmedia dalam bentuk sastra rakyat seperti pantun, teka-teki, syair, tarian, nyanyian dll. Media komunikasi komunitas ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya-budaya bangsa kita. Umumnya media-media itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan pesan-pesan moral, tentang yang baik dan yang jahat. Tidak mahal, dapat dijangkau, bersifat kolektif sehingga pesan-pesanpun dapat dirancangkan dan didiskusikan bersama. Malah orang-orang sekomunitaslah yang akan menjadi lakon dalam media-media itu.  Banyak pakar komunikasi mengatakan bahwa inilah model komunikasi yang ideal karena komunitas bersama-sama mendiskusikan persoalan hidup mereka lalu mencari cara untuk mengungkapkannya kepada publik tentang nilai-nilai yang mereka anut. Disini, justru riset khalayaklah yang menjadi variabel suatu proses komunikasi. Bahwa orang akan melihat dinamika hidup masyarakat tertentu lalu mencari media yang sesuai  dengan bentukan masyarakat yang ada. Dan bukan sebaliknya, memilih media terlebih dahulu dan kemudian memformat masyarakat untuk diselaraskan dengan logika media. ( Agus Alfons Duka,SVD )

Kuasa Kepemimpinan Dalam Gereja

Pengantar
Salah satu pertanyaan yang disampaikan oleh umat adalah tentang kepemimpinan Gereja. Apakah umat beriman kristiani awam memiliki kuasa kepemimpinan dalam Gereja? Partisipasi kepemimpinan macam apa yang dimiliki oleh umat beriman kristiani awam?

Kitab Hukum Kanonik 1983 berjudu De potestate regiminis (kuasa kepemimpinan) menjelaskan secara rinci tentang kepemimpinan Gereja (bdk. kan. 129-144). Kepemimpinan Gereja mengacu pada kuasa ilahi yang diperoleh seseorang beriman melalui penerimaan sakramen tahbisan. Oleh karena melalui tahbisan itu ada kuasa yang dalam kodeks disebut dengan potestas sacra (kuasa suci) (bdk. LG, 10b; 18a). Dalam kodeks lama KHK 1917 disebut dengan potestas ordinis (kuasa tahbisan) yang memiliki gradasi atau hirarki atas dasar tahbisan (bdk. kan. 108, §1, KHK 1917). Karena menerima tahbisan, seseorang menerima kuasa untuk memimpin hal itu dinyatakan dalam kanon 1008, KHK 1983: Dengan sakramen tahbisan, menurut ketetapan ilahi sejumlah orang dari kaum beriman kristiani diangkat menjadi pelayan-pelayan suci, ditandai meterai yang tak terhapuskan, yakni dikuduskan dan ditugaskan untuk menggembalakan umat Allah, dengan melaksanakan dalam pribadi Kristus Kepala, masing-masing menurut tingkatannya, tugas-tugas mengajar, menguduskan dan memimpin.

Dibedakan dalam kodeks lama potestas ordinis (kuasa tahbisan) dan potestas iurisdictionis (kuasa kewenangan). Potestas ordinis diperoleh dengan penerimaan sakramen tahbisan yang menuntut adanya jabatan. Sedangkan potestas iurisdictionis diperoleh melalui pemberian kewenangan dari otoritas yang lebih tinggi. Dalam kodeks yang baru KHK 1983, keduanya menjadi satu, seorang beriman memiliki potestas iurisdictionis setelah menerima potestas ordinis melalui tahbisan suci.

Dari satu kuasa untuk aneka pelayanan

Konsili Vatikan II mengamini apa yang dinyatakan di atas bahwa kuasa kepemimpinan dalam Gereja diperoleh melalui penerimaan tahbisan. Artikel dalam Lumen Gentium, LG, 21 mengatakan: Untuk menunaikan tugas-tugas yang mulia itu para Rasul diperkaya dengan pencurahan istimewa Roh Kudus, yang turun dari Kristus atas diri mereka (bdk. Kis 1:8). Dengan penumpangan tangan, mereka sendiri meneruskan kurnia rohani itu kepada para pembantu mereka (bdk. 1 Tim 4:14). Kurnia itu sampai sekarang ini disalurkan melalui tahbisan Uskup sebagai kepenuhan tahbisan imamat.

Dari kurnia ilahi yang diterimakan seseorang melalui tahbisan lahirlah kuasa kepemimpinan Gereja secara hierarkis sesuai dengan tahbisan yang diterimanya: Diakonat, Presbiteriat dan Episcopat. Penerimaan sakramen tahbisan tersebut mengandung aneka ragam pelayanan kepada umat, yang terbagi dalam tugas pelayanan menguduskan, mengajar dan memimpin (tria munera in persona Christi) atas nama Kristus (bdk. kann 1008-1009). Dengan potestas sacra yang ada pada imam pejabat membentuk dan memimpin umat beriman, menyelenggarakan korban Ekaristi atas nama Kristus dan mempersembahkannya pada Allah atas nama segenap umat. Imamat jabatan itu mereka laksanakan pada saat merayakan sakramen-sakramen, berdoa dan bersyukur, memberi kesaksian dan pengingkaran diri serta cinta kasih yang aktif (bdk. LG 10b).

Kuasa kepemimpinan kaum awam
Kanon 129, 1 menengaskan pernyataan Konsili: menurut ketentuan norma hukum, yang mengemban kuasa kepemimpinan yang oleh penetapan ilahi ada dalam Gereja dan juga disebut kuasa yurisdiksi, ialah mereka yang telah menerima tahbisan suci.

Baru dalam paragrap kedua kanon yang sama menyatakan letak kepemimpinan kaum awam: dalam pelaksanaan kuasa tersebut, orang-orang beriman kristiani awam dapat dilibatkan dalam kerjasama menurut norma hukum. Di sinilah letak kepemimpinan kaum awam yakni: berkat penerimaan sakramen pembaptisan awam mengambilbagian dalam tiga tugas Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja. Kaum awam memperoleh imamat umum yang membedakan dari imamat jabatan/hirarkis.

Kendati berbeda, tingkatannya imamat umum dan jabatan satu sama lain saling terarahkan. Sebab keduanya dengan caranya yang khas masing-masing mengambilbagian dalam satu imamat Kristus (bdk. LG. 10,b). Jadi kepemimpinan awam merupakan pengambilbagian dari exercitio eiusdem potestatis yang dimiliki oleh Imam/Uskup.

Ad normam iuris cooperari possunt
Kanon 129 menyatakan sebuah solusi tentang masalah siapa yang memiliki kuasa memimpin (munus regendi) di dalam Gereja. Masalah timbul dari determinasi hubungan antara imamat umum dan ministerial dan kuasa memimpin di dalam Gereja. Paragrap satu kanon 129, menetapkan bahwa ada dua jalan untuk pelayanan di dalam Gereja: pertama pelayanan Gereja yang membutuhkan kuasa dari sakramen tahbisan dan misi kanonik. Kuasa sakramen itu merujuk pada kemampuan yang bersumber atas nama Kristus secara spiritual dan pengudusan dari ikatan tahbisan. Misi kanonik diberikan oleh pemimpin Gereja sebagai kuasa yang didelegasikan potestas delegata (bdk. kan. 131) seturut norma kanonik kepada seseorang untuk melaksanakan tugasnya. Perbedaan ini secara eksplisit dalam paragrap kedua kanon 129 dinyatakan: in exercetio eiusdem potestatis, christifideles laici ad normam iuris cooperaro possunt.

Apa maksud dari kalimat ad normam iuris cooperari possunt? Kodeks memberikan aneka kemungkinan bagi kaum awam untuk bekerjsama (kooperatif) dengan Imam dalam pelaksanaan kuasa yurisdiksi yang dimilikinya. Kerjasama dalam bentuk ambilbagian dalam kuasa kepemimpinan Gereja oleh kaum awam terwujud dalam tugas-tugas Gereja baik dalam eksekutif maupun yudikatif level.

Sebagai contoh kaum awam dapat menjadi notarius, atau defensor vinculi dalam tribunal Gereja, atau menjadi anggota Dewan Keuangan Keuskupan/Paroki, atau Dewan Pastoral Keuskupan/Paroki. Jadi baik Imam (clerus) maupun kaum awam (laicus) dapat bekerjasama dalam pelaksanaan kuasa yurisdiksi oleh seorang berkat penetapan ilahi yang diterimanya atau oleh kuasa yang didelegasikan. Kepemimpinan kaum awam dalam Gereja didasarkan pada penerimaan sakramen baptis dan imamat umum yang diterimanya. Kuasa memimpin awam dalam Gereja dimungkinkan sejauh pelaksanaan kuasa memimpin itu tidak memerlukan kuasa tahbisan seturut norma hukum. Contoh, awam tidak bisa menjadi pastor paroki karena untuk menjadi pastor paroki dibutuhkan kuasa kepemimpinan berdasarkan tahbisan potestas ordinaria (bdk. kan. 521, §1, ).

Sisi demokratisasi kepemimpinan dalam Gereja
Meski kepemimpinan dalam Gereja didominasi oleh seorang yang menerima kuasa kepemimpinan melalui penerimaan tahbisan suci (bdk. kan 129), kaum awam bukanlah kelas nomor dua dalam Gereja. Mengapa? Karena konsep Gereja sebagai Umat Allah (bdk. kan. 204) dimana semua umat beriman kristiani (Uskup, Imam, Awam, Biarawan/Biarawati) berkat penerimaan sakramen pembaptisan diinkoperasi pada Kristus, mengambilbagian dalam tugas Kristus dengan caranya sendiri.

Disini tidak ada lagi pembagian kelas dalam Gereja, semua sama dan wajib berpartisipasi dalam kepemimpinan Gereja sesuai dengan fungsinya. Keputusan dalam kepemimpinan Gereja ada ditangan pemimpin yang memiliki kuasa ilahi (potestas sacra) namun sebelum mengambil keputusan, wajib mendengarkan umat beriman demi kebaikan bersama. Oleh karena itu, babak baru dalam kepemimpinan Gereja adalah membangun sebuah kerjasama yang harmonis antara Uskup/Imam dan umat beriman awam dalam memimpin umatnya.

Kepemimpinan Gereja tidaklah clerical centris (kaum tertahbis) atau laical centis (kaum terbaptis non tertahbis) tetapi kepemimpinan Kristus sentris dimana semua anggota Gereja berpartisipasi dalam kepemimpinan Gereja sesuai dengan jabatan dan fungsinya. Semoga kerjasama imam dan awam semakin memberi suasana yang baik di paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo tercinta.

Bangkit Dalam Bencana

Adakah yang berinisiatif membantu kami di sini ?”, “Listrik mati, air mulai naik kami membutuhkan bantuan segera” atau tulisan yang dibawa warga korban lumpur, “Omah kelem, mangan gak oleh. Yok opo iki”.

Demikian ungkapan para korban bencana sejak Desember lalu hingga pertengahan Maret, ketika banjir kembali melanda. Saudara-saudara di lokasi bencana di Ponorogo, Madiun, Ngawi, Bojonegoro, Cepu, Tuban, Lamongan, Gresik, Kediri, Pasuruan dan Situbondo. Juga warga korban lumpur di seputaran Porong kembali mengetuk keprihatinan. Curah hujan begitu tinggi dan musim hujan ternyata relatif panjang dari prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika yang memperkirakan berakhir pada Februari lalu. Banjir dan tanah longsor menjadi ancaman setiap kali hujan deras terjadi. Ratusan rumah di Situbondo rusak diterjang banjir bandang. Di daerah-daerah lain yang dilanda banjir, ratusan hektar sawah dan tambak terendam, para petani gagal panen, jalan rusak dan jembatan putus menganggu perekonomian.

Dalam suasana keprihatinan sedemikian itu, terasa pas seruan Yesus di salib, serupa solider, senasib dengan para korban dan penderita, ”AllahKu, Ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Bencana yang mengakibatkan penderitaan dan kerugian tidak dapat dihindari. Namun, bencana, penderitaan dan kerugian mempunyai pengaruh menyempurnakan, mengganti dan mengubah. Aneka kesulitan itu memiliki karakteristik menjernihkan, memiliki sifat menggerakkan, sekaligus menciptakan kewaspadaan serta menghilangkan kelemahan. Itulah hikmah dalam bencana. Itulah kebangkitan, sesudah kematian. Para korban banjir, pemerintah dan aparaturnya, lembaga swadaya masyarakat, partai politik dan masyarakat dapat belajar dari bencana yang serentak menimpa beberapa daerah. Betapa penting mengkoordinasi bantuan agar bantuan tepat sasaran secara efektif dan efisien tanpa mempedulikan kepentingan pribadi (self interest). Betapa penting mendahulukan aspek kemanusiaan korban daripada memperdebatkannya. Tak kalah penting ialah deteksi dini demi pengurangan resiko bencana. Juga upaya pencegahan jangka panjang dengan penghijauan dan pemanfaatan tanggul sesuai peruntukan. Habis bencana, penderitaan dan kerugian diharapkan terbitlah kearifan. Orang terkena bencana itu biasa, tetapi orang terkena bencana lalu bangkit lagi itu luar biasa.

Demikianlah, kehidupan lebih kuat dari kematian. Kehidupan yang kuat terpancar dari sikap penuh daya hidup, tidak rapuh dan bahkan tidak memikirkan diri sendiri, merupakan sikap sungguh berharga di dalam dunia ini. Hanya orang yang paling kuat, yang tahan dalam perjuangan mempertahankan hidup (strugle for life). Sedangkan orang yang tak punya daya hidup, rapuh dan lemah akan rebah dan musnah, sesuai hukum alam yang hanya memungkinkan yang paling kuat yang sanggup bertahan (survival of the fittest).

Tak seorang pun ingin menjadi orang malang, melainkan mujur. Tak seorang pun ingin terlalu lama berduka, melainkan bahagia. Serupa pepatah, orang jatuh itu biasa, tetapi orang jatuh lalu bangkit lagi itu luar biasa. Misteri Paskah mengajak untuk menghayati rahasia agung, mati lalu bangkit. Justru dan hanya karena itu manusia dapat hidup dengan sepenuh-penuhnya. Banjir bandang telah merusakkan rumah, menenggelamkan ratusan hektar sawah dan tambak siap panen, meluluhlantakkan jalan dan jembatan, menganggu perekonomian dan membuat kehidupan suram dan sesak. Dalam keadaan tanpa harapan, betapa berharganya sosok pewarta harapan bagi yang mengalami keterpurukan. Pewarta harapan ialah para penyumbang dan sukarelawan yang tergerak hati membantu dengan tulus hati. Misteri agung, mati lalu bangkit memiliki bentuk yang tak terbilang jumlahnya, seperti perhatian manusiawi yang hangat kepada orang membutuhkan bantuan, tersenyum menyapa dengan sepatah kata yang memberi semangat atau merelakan diri terlibat dalam karya sosial nyata. Semua tanda perhatian yang sederhana ini dapat berarti kehidupan baru yang juga berarti memberi kebangkitan bagi sesama. Dengan mengambil bagian dalam kebangkitan Yesus yang memberi kehidupan, manusia mengatasi kelemahan, ketakutan akan maut, dosa dan neraka. Partisipasi memberi hidup dengan cara apapun, berarti ikut serta dalam kebangkitan Yesus. Hidup itu lebih kuat dari maut. Cinta kasih, pemberian diri secara radikal telah mengalahkan kematian. Hidup, cinta kasih dan pemberiaan diri itulah yang harus kita wartakan. Inilah pesan paskah, tidak percuma menyerahkan hidupnya sendiri agar orang lain dapat hidup, tidak percuma mengulurkan tangan membantu agar para korban ringan beban hidupnya, tidak percuma mengorbankan waktu, biaya dan tenaga agar para korban kembali memiliki semangat hidup. Selamat Paskah 2008.

Rm Luluk untuk Surya 23 Maret 2008

KOORDINASI BANTUAN UNTUK KORBAN BANJIR DI JAWA TIMUR

Bersama ini akan kami sampaikan situasi bencana yang melanda 3 paroki di wilayah Keuskupan Surabaya. Yaitu: Paroki St. Maria, Ponorogo; Paroki St. Willibrordus, Cepu dan Paroki St. Yoseph, Ngawi. Paroki St. Maria, Ponorogo Rabu 26/12/2007, sekitar pukul 12.15, Romo Fusi Nusantoro, Pr (Ketua Komisi PSE Regio III dan Pastor Pembantu Paroki St. Maria, Ponorogo) menginformasikan lewat sms, situasi banjir yang melanda kota Ponorogo dan sekitarnya, pasca hujan selama 24 jam, pada hari Selasa-Rabu, tanggal 25-26 Desember 2007. Sampai pukul 14.00, kondisi SMPK dan Gereja Katolik St. Maria, keduanya terletak di Jl. Gajah Mada halamannya tergenang air. Sementara itu, ada 30 jiwa pengungsi di SMPK, 15 jiwa pengungsi di Gereja dan 100 jiwa di SDK St. Maria. Mereka adalah penduduk kota Ponorogo yang rumahnya terimbas banjir.

Pada pukul 17.01, Rm. Fusi Nusantara, Pr menginformasikan kebutuhan yang mendesak adalah bahan makan atau sembako. Paroki St. Maria, Ponorogo telah membagikan 700 nasi bungkus, hari ini (Rabu, 26/12/07). Daerah yang terendam banjir meliputi daerah barat alun-alun Ponorogo, serta Stasi Carangrejo.

Keuskupan Surabaya dan Seksi Sosial Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo telah mengirimkan bantuan sembako dan dana Rp. 2.500.000,- untuk tanggap darurat. Kamis 27/12/2007, situasi Ponorogo dan sekitarnya tidak lagi hujan dan banjir perlahan-lahan mulai surut. Kontak Paroki St. Maria, Ponorogo: 0352 481184, Rm. Fusi Nusantara, Pr 081335449100.
Paroki St. Willibrordus, Cepu

Kamis 27/12/2007, pada pukul 11.32, Romo Siprianus Yitno, Pr (Ketua Komisi PSE Regio IV dan Pastor Kepala Paroki St. Willibrordus, Cepu) menginformasikan lewat sms, situasi banjir yang melanda wilayahnya karena luapan sungai Bengawan Solo. Halaman Gereja Paroki dipakai mengungsi oleh masyarakat sekitar. Yang paling parah ialah Stasi St. Petrus Jipang, stasi dengan jumlah umat 90 kk, terendam banjir. Akses menuju stasi melalui jalan raya juga terendam air, mobil pengangkut bantuan tidak dapat menjangkau lokasi. Sangat dibutuhkan perahu karet untuk mengangkut / mengevakuasi korban yang terpaksa bertahan di atas rumah. Selain itu sangat dibutuhkan makanan siap saji / nasi bungkus dan air minum.

Kamis siang, PSE Keuskupan Surabaya mengirimkan bantuan sembako dan dana Rp. 2.500.000,- untuk tanggap darurat. Kamis malam, Paroki St. Vincentius, Surabaya konfirmasi akan mengirimkan sembako yang akan diserahkan tanggal 31 Desember 2007. Kontak Paroki St. Willibrordus, Cepu: 0296 421395, Rm. Siprianus Yitno, Pr 081334675865.
Paroki St. Yoseph, Ngawi

Kamis 27/12/2007, pada pukul 13.55, Bapak Bambang Gunadi RN (Seksos Paroki St. Yoseph, Ngawi) menginformasikan melalui sms, situasi kota Ngawi yang terkepung banjir dari arah Barat, Utara dan Selatan. Yang paling parah di Stasi St. Paulus, Kwadungan, dengan jumlah umat sekitar 60 kk. Akses menuju stasi melalui jalan raya terendam air, mobil yang akan mengevakuasi korban dan pengangkut bantuan tidak dapat menjangkau lokasi. Jumat, 28/12/2007, PSE Keuskupan Surabaya mengirimkan dana sebesar 2.500.000 untuk tanggap darurat. Kontak Paroki St. Yoseph, Ngawi: 0351 749153
Paroki St. Paulus, Bojonegoro

Banjir masuk kota setinggi 1 meter. Pengiriman sembako ke seberang sungai yang terisolir dilakukan Sr. Bertha, PK menggunakan perahu warga. Umat Paroki membuat nasi bungkus. Banjir hari ini semakin parah. Bantuan sembako tidak bisa masuk kota. Jalan ke Bojonegoro putus. Dapur umum Gereja ditinggalkan orang karena mengurus rumah sendiri-sendiri. Jaringan telepon putus, listrik mati. Pemda tidak melakukan koordinasi, mungkin karena Bupati sekarang, kemarin kalah dalam Pilkada. Perahu karet lalu-lalang tetapi tidak merata evakuasinya. Ketua Depar bersama Lions Club yang hendak menjangkau lokasi membawa sembako, dijarah sebelum sampai. Banyak yang membutuhkan makan tetapi distribusi tak merata.

Gereja Katolik Bojonegoro,telp:0353881160

Kebutuhan:
1. Bahan makanan, beras, roti, mie instant, lauk pauk: tempe, telur asin, krupuk, peyek
2. Obat-obatan: obat hipertensi, asthma, salep mikonazole (jamur) dan obat luka
3. Peralatan mandi: sabun, odol, handuk, shampo
4. Perlengkapan perempuan
5. Perlengkapan sekolah: buku, alat tulis

Demikianlah pemberitahuan ini. Jika hendak mengirimkan bantuan berupa dana dapat ditransfer melalui rekening APP Keuskupan Surabaya: BCA, Cabang Diponegoro, 2581542111 an. Petrus Canisius Edi L / Agustinus Eka Winarna, Pr. Atas perhatiannya, kami mengucapkan terima kasih. Surabaya , 31 Desember 2007

Hormat kami,

Rm. A. Luluk Widyawan, Pr – Ketua Komisi PSE Keuskupan Surabaya

TERUS TERANG, TERANG TERUS

(Matius 5:13-16)

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.
[Matius 5:16]
Suatu hari Tom, seorang penjaga pintu lintasan kereta api diajukan kepersidangan sebagai terdakwa penyebab meninggalnya pengemudi bis kota dan puluhan penumpang lainnya yang sedang dalam perjalanan untuk berlibur di salah satu pantai Florida, Amerika. Tugas Tom adalah memberitahu kepada para pemakai jalan, bahwa kereta api akan lewat, yaitu dengan cara mengangkat lentera yang dipegangnya. Tetapi entah mengapa, sore itu supir bis yang membawa puluhan orang seakan-akan tidak melihat lentera yang telah diangkat Tom, sehingga tabrakan maut tak terelakan.
Di ruang sidang, majelis hakim seolah-olah tidak memihak pada Tom, bahkan puluhan orang yang ada di ruangan itu tetap mengatakan, bahwa Tom bersalah. Dengan suara yang setengah geram, jaksa penuntut untuk kesekian kali memaksa Tom mengakui, bahwa ia lalai mengangkat lentera sebagai tanda kereta akan lewat, sehingga semua pengguna jalan harus mendahului lewatnya kereta itu. Tom tetap kokoh mengatakan, bahwa ia tidak lalai dalam tugasnya. Untuk terakhir kalinya penuntut umum bertanya, “Benarkah Anda tidak melalaikan tugas?” Dengan tegas Tom mengatakan, “Tidak pak!” “Kalau begitu apakah Anda yakin, bahwa lentera yang Anda angkat itu menyala?”, tanya penuntut umum. Dengan terbata- bata Tom berkata, “Saya tidak lalai untuk mengangkat lentera itu, tetapi saya tidak tahu apakah lentera itu menyala atau tidak?”
Saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, terang adalah sesuatu yang dapat dilihat terang hadir, maka kegelapan tidak akan mampu menghampirinya. Kehadiran terang banyak manfaatnya, jika terang lentera itu menyala, maka tidak terjadi tabrakan maut. Jika terang itu bercahaya, maka setiap orang akan mudah melakukan aktivitas di malam hari, dan sebagainya. Mari kita pancarkan terang kemuliaan Allah melalui sikap hidup (perkataan, perbuatan, dan tingkah laku) agar sebanyak mungkin orang berbalik dari gelap menuju terang.
Doa:
Tuhan Yesus, tolong saya agar cahaya terang yang ada dalam hidup ini tidak redup, tetapi mampu menerangi setiap orang agar mereka dapat melihat kebenaran Allah. Amin.
Tuhan memberkati!

MENANTI

Alkisah di pintu masuk kapal, berdirilah Nuh dan Yesus.
“Tuhan, saatnya kita berangkat…”, kata Nuh seraya hendak mengangkat sauh
“Tunggu dulu. Masih ada yang kita tunggu,” sahut Yesus sambil menyaksikan ke arah tangga, ”Kamu lihat, masih ada sepasang siput jantan dan betina yan sedang berjalan masuk ke kapal”, kata Yesus lagi.
”Ya, saya melihat. Tapi berapa lama lagi kita menunggu Tuhan. Bagaimana jika banjir bandang segera datang, ” Nuh mulai cemas
”Kita harus menunggu. Apapun kejadiaannya kita harus menunggu”, kata Yesus menegaskan.
Dan sepasang siput itu tetap berjalan pelan menuju ke arah pintu masuk kapal. Pelan sekali. Namun pasti. Berjalan dengan keyakinan bahwa mereka berdua tak akan tertinggal kapal. Meskipun tidak tahu dan tidak melihat, bahwa di pintu masuk Yesus masih setia menunggu.
Masa adven adalah masa penantian. Adven memiliki akar kata bahasa Latin, ad venire, yang artinya menantikan kedatangan. Adven kemudian dimengerti sebagai masa penantian, ialah penantian kedatangan. Kedatangan siapa ? Ya, kedatangan Yesus di Hari Raya Natal.
Di masa penantian kedatangan, kita menempatkan diri sebagai subyek. Kita menantikan Yesus yang akan dirayakan di Hari Raya Natal. Yesus sebagai obyek. Satu-satunya modal berharga kita di masa penantian, persis seperti sepasang siput itu, ialah iman dan keyakinan.
Betapa berharganya iman itu. Dan betapa kita seharusnya mengucap syukur masih memiliki iman. Iman itulah yang tanpa sadar menggerakkan kita untuk melakukan serangkaian persiapan. Entah persiapan lahir maupun persiapan batin. Tanpa iman, tidak mungkin kita repot-repot, mengeluarkan tenaga, waktu dan biaya untuk menyambut Hari Raya Natal. Memang, tanpa iman sebenarnya kita bisa melakukan itu semua, namun apa artinya ? Apa bedanya dengan orang-orang beriman yang bisa melakukan kebaikan yang sama ? Lebih aneh, jika kita memiliki iman menantikan kedatangan Yesus, tetapi tidak melakukan apa-apa.
Dalam konteks persiapan secara batin, telah berlangsung Minggu Adven yang akan berakhir pada Minggu Adven yang keempat. Di lingkungan-lingkungan telah difasilitasi dengan ibadat Adven. Secara khusus, akan diadakan penerimaan sakramen rekonsiliasi yang menyempurnakan masa penantian dengan kembali berdamai dengan Allah. Perdamaian dengan Allah diwujudkan secara nyata dalam bentuk silih. Rupa silih atas perdamaian dengan Allah tampak dalam konteks persiapan lahir. Bentuknya yaitu berbuat amal dan kebaikan. Pengedaran amplop aksi Natal perlu dimaknai sebagai sarana pertobatan itu. Berdamai dengan Allah, konsekuensinya berdamai dengan sesama dalam karya amal kasih.
Kembali kepada kedua siput dalam kisah di atas. Mereka berdua seperti kita yang memiliki iman menantikan saatnya kedatangan Tuhan. Namun sebenarnya, jelas sekali siapa yang menanti, siapa yang menjadi subyek dan obyek. Yesus adalah subyek, kita inilah obyek yang dinantikanNya. Yang sebenarnya menanti ialah Yesus sendiri. Yesus menanti meskipun kita berjalan sangat lambat. Yesus tetap setia menunggu, meskipun kita tahu jenuhnya menunggu. Ia mendahului kita menjadi manusia dalam misteri inkarnasi. Yesus mau menjadi manusia untuk memberi tahu kepada kita jalan keselamatan. Yesus telah lebih dulu menunggu di depan pintu. Yesus telah lebih dulu menanti dengan sabar. Sayang sekali kita tidak melihatnya ketika repot dengan berbagai urusan.
Hari ini kita memasuki Minggu Adven ketiga. Masih ada kesempatan. Ia masih menunggu dan memberi kesempatan kepada kita. Kesempatan untuk berdamai dengan Allah, kesempatan untuk berdamai dengan sesama, kesempatan untuk berbuat silih, kesempatan untuk memperbaiki diri agar pantas merayakan Natal dengan damai dan gembira. Belum terlambat. Yesus pun masih setia menanti, ketika kita berpikir bahwa kitalah yang menatikanNya (A. Luluk Widyawan, Pr).

SERAH TERIMA: PASTOR KEPALA PAROKI

Tanggal 7 Agustus 2007 yang lalu telah dilaksanakan serah terima jabatan Romo Kepala Paroki dari Romo C.B. Senti Fernandez, Pr diserahterimakan kepada Romo A. Luluk Widyawan, Pr dihadapan rapat pleno Dewan Paroki yang juga dihadiri Uskup Surabaya yang baru Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr, Romo Damar Cahyadi, dan Romo Carolus Jande, Pr.

Romo C.B. Senti Fernandez, Pr menandatangani surat serah terima jabatan.

Romo Antonius Luluk Widyawan, Pr menandatangani surat serah terima jabatan

Serah terima dilakukan dihadapan Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr.