MENGALAH UNTUK MENANG

Begitu mudah bagi kita untuk mengatakan, bahwa kita bisa bersikap mengalah. Namun pada kenyataannya, hal itu sulit sekali untuk dipraktekkan.Terbukti, lihat saja pertengkaran yang masih terjadi sampai sekarang ini.Sebut saja terjadinya pertengkaran, entah itu pertengkaran antar suami isteri, atau terjadinya tawuran pelajar. Begitu pula kita sering mendengar berita tentang sebuah keluarga yang saling membunuh antar sesama keluarganya hanya karena berebut harta warisan. Apalagi penyebabnya kalau bukan di antara mereka yang tidak mau mengalah.

Mengapa pertengkaran itu bisa terjadi? Sebab salah satu pihak tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing pihak maunya menang sendiri. Mereka bersikap egois, mau menang sendiri dan tidak mau berinisiatif untuk meredakan kemarahan. Hal inilah yang menimbulkan pertengkaran yang hebat.

Mengapa seseorang tidak bisa memiliki sikap mengalah? Karena mereka menilai dari cara pandang yang salah. Mereka beranggapan, bahwa orang-orang yang mengalah menjadikan dirinya sebagai orang-orang yang kalah. Bisa juga hal ini terjadi karena tidak mau melepas segala hak demi orang lain, karena takut, tidak mau dirugikan orang lain, atau yang lebih parah lagi karena keegoisan kita. Kita lebih mudah mengalah terhadap perbuatan-perbuatan kedagingan kita.Buktinya, banyak orang-orang percaya yang lebih mudah mengalah (tunduk) pada iblis atau dosa. Akhirnya mereka terjerumus pada perbuatan dosa. Mereka mengalah pada iblis akhirnya mereka menjadi kalah! Tetapi mengalah untuk kebenaran, mengalah karena memang benar-benar kita tidak memiliki sikap egois atau menang sendiri sepertinya hal itu sulit kita lakukan. Sebagai orang percaya sudah seharusnya kita memiliki sikap mengalah.Ada beberapa hal yang patut kita renungkan, mengapa orang percaya harus memiliki sikap mengalah.

Satu, Mengalah merupakan bagian dari karakter Allah [Filipi 2:6-7]. Kematian Tuhan Yesus di kayu salib merupakan bukti, bahwa IA memiliki teladan dalam hal mengalah. Ia rela mengalah bukan saja menderita, melainkan mati bagi kita agar mau dikalahkanNya. Sekalipun Yesus mendapatkan caci maki, ejekan, hinaan, olokan dari sikap mengalah yang dimilikinya akhirnya membuat semua orang diselamatkan dari maut. Saudara, kalau Yesus saja yang saat itu sedang mengalami konflik dengan orang-orang yang membenci diriNya saja, bisa mampu bersikap mengalah pada mereka. Mengapa kita tidak bisa meneladani sikap Yesus yang mulia itu? Dalam hidup memang kadangkala kita menghadapi berbagai konflik.Jangankan dengan orang lain, dengan sesama anggota keluarga kita pun kita pernah mengalami konflik dengan mereka. Mungkin saat ini kita sedang mengalami pertengkaran dalam keluarga. Kita menjadi suami yang tidak mau mengalah dengan isteri. Atau kita menjadi kakak yang tidak mau mengalah dengan adik kita. Ingatlah, bahwa Firman Tuhan hari ini menegur agar kita meneladani Yesus yang memiliki kerendahan hati. Mintalah kuasa Roh Kudus mematahkan setiap ke-aku-an kita. Hancurkan anggapan, bahwa diri kita harus lebih dari orang lain atau merasa diri paling benar dari yang lain, sehingga kita berlaku egois terhadap mereka.

Dua, Mengalah bagian dari Iman untuk menantikan berkat-berkat Allah [Kejadian 13:7-13]. Tokoh Kitab Suci/Alkitab yang memiliki teladan dalam sikap mengalah adalah ABRAHAM. Dalam Kejadian 3:7-13 ini diceritakan terjadinya pertengkaran antara gembala-gembala Abraham dan Lot, karena tempat yang semakin terbatas. Akhirnya Lot memiliki Lembah Yordan, tempat yang lebih baik yang banyak airnya. Sedangkan Abraham menetap di tanah Kanaan. Abraham sebenarnya berhak atas tanah warisan itu, tetapi Abraham rela mengalah dan memberikan tanah itu kepada Lot. Apa yang terjadi? Tuhan memberikan seluruh negeri itu kepada Abraham dan kepada seluruh keturunannya [Kejadian 13:14-16]. Warisan itu diberikan kepada Abraham setelah ia bersikap mengalah kepada Lot.

Abraham melakukan sikap yang terpuji dan karena Imannya, ia rela melakukan hal tersebut.
Saudara, selama kita masih mempertahankan milik kita dan tidak mau memiliki roh yang mau mengalah, tetapi roh yang suka merebut dan tidak rela melepaskan hak, kita tidak akan pernah meraih berkat-berkat Allah. Orang yang mengalah adalah orang percaya dan menaruh imannya pada Allah, serta mempercayakan seluruh persoalannya pada Allah. Bukti lain yang menunjukkan, bahwa Abraham memiliki sikap mengalah adalah ketika Allah menyuruh Abraham untuk mempersembahkan Ishak. Allah menyuruh Abraham untuk pergi ke Tanah Moria untuk mempersembahkan Ishak di sana sebagai korban bakaran [Kejadian 22:2]. Bagi Abraham dan Sara yang baru saja dikaruniai seorang anak, bukan merupakan hal yang mudah bagi mereka untuk mempersembahkan anak mereka satu-satunya itu. Tetapi apa yang dilakukan Abraham itu luar biasa. Ia melakukan apa yang diperintahkan Allah dengan segera [Ibrani 22:3,9]. Inilah bukti Abraham adalah orang yang mampu bersikap mengalah dalam situasi apapun. Abraham merelakan Ishak, sehingga ia menerima kembali seorang Ishak yang telah dilipat gandakan, sampai tidak terhitung lagi banyaknya. Terkadang kita tidak mau bersikap seperti Abraham. Kita tidak mau mengalah karena kita takut kehilangan segala sesuatu yang kita miliki, sehingga kita sering memegang erat-erat “Ishak” kita. Akhirnya kita kehilangan berkat yang telah disediakan Allah.

Tiga, Sikap mengalah merupakah ciri orang yang lemah lembut. Orang yang mengalah menandakan dirinya memiliki sikap lemah lembut. Itu yang menyebabkan dia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi mengalahkah kejahatan itu dengan kebaikan. Firman Tuhan dalam Matius 5:39 berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berikan juga kepadanya pipi kirimu”. Itulah makna kelemahlembutan.

Empat, Mengalah menandakan kita memiliki penguasaan diri. Ketika kita belum mampu memiliki sikap mengalah dengan orang lain, berarti kita belum bisa menguasai diri. Kita belum bisa mengalahkan segala keinginan kita, masih
egois. Kalahkan sifat yang tidak mau mengalah itu, gantilah dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan.
Jika selama ini kita masih mengeraskan hati, dalam arti kata kita masih suka bersikap egois, mau menang sendiri, hanya karena harga diri kita lantas menjadi sombong dan tidak mau mengalah, berubahlah. Berdoa dan minta kuasa Roh Kudus untuk mengubah hati kita, sehingga karakter kita berubah. Sebab hanya orang yang dikuasai Roh Kuduslah yang memampukan dia bersikap rendah hati dan rela mengalah untuk menang.

Ketika kita mengalah, kita sedang menaruh iman kita kepada Tuhan dan siap menerima segala janji-janji Allah. Ketika kita mengalah, kita sedang meneladani sifat Allah yang sangat mulia. Mengalah bukan berarti kalah. Di
mata manusia, sikap mengalah itu tandanya kalah, tapi tidak di mata Allah.

Mengalah itu indah. Justru dibalik mengalah itu, kita sedang menantikan kemenangan yang IA berikan kepada kita.
Tuhan memberkati!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s