DETEKSI DINI MASALAH ANAK USIA PRA SEKOLAH

ANAK ADALAH GENERASI PENERUS GEREJA MASA DEPAN, GEREJA KITA PENUH DENGAN ANAK-ANAK, TETAPI KITA MASIH PERLU BANYAK BELAJAR MEMAHAMI ANAK, MEMAHAMI ANAK SEJAK DINI, MAKA KITA BELAJAR DARI YESUS ; BIARLAH ANAK-ANAK DATANG KEPADAKU……….

MENGAPA PERLU DETEKSI DINI PADA USIA PRASEKOLAH ?

Pencegahan dan penanganan sedini mungkin untuk beberapa gangguan belajar akan semakin efektif. Berbagai jenis gangguan perkem-bangan dengan berbagai derajatnya seringkali mulai dapat terlihat pada usia‑usia prasekolah, namun seringkali jika orangtua dan guru tidak memahaminya cenderung untuk mengabaikannya. Beberapa gejala dapat terlihat dengan sangat jelas, namun dalam beberapa kasus dapat terjadi tidak terlihat jelas dan seringkali tidak terdiagnosa.

Masa prasekolah merupakan perode kritis untuk efektivitas upaya‑upaya pencegahan dan penanganan berbagai gangguan belajar. Oleh karena itu orangtua, dan guru prasekolah perlu memahami deteksi dini gangguan belajar untuk dapat dengan segera memberikan rujukan kepada tenaga profesional seperti dokter tumbuh kembang anak, psikolog ataupun psikiater jika ditengarai siswa tertentu menunjukkan masalah‑masalah belajar.

MASALAH YANG SERING TERJADI PADA USIA PRASEKOLAH?

a. Masalah umum yang sering terjadi

Masalah perilaku pada usia prasekolah banyak terjadi karena tugas‑tugas perkembangan pada suatu periode tertentu tidak terpenuhi sehingga menimbulkan masalah. Schaefer Et Mittman (1981) mengemukakan beberapa masalah umum peritaku anak yang sering muncul :

1. Tidak patuh

Ada 3 bentuk ketidakpatuhan: melakukan instruksi tapi terpaksa, tidak mau metakukan instruksi, atau sengaja melakukan yang bertolak belakang dengan instruksi.

Penyebab perilaku tidak patuh antara lain :
pola pengasuhan yang serba membolehkan atau terlalu disiplin, pola pengasuhan yang tidak konsisten, orangtua yang mengalami stres, ataupun anak terlalu pandai.

2. Temper tantrum

Temper tantrum merupakan kemarahan yang meledak‑ledak yang berupa hilangnya kontrol diri berbentuk menjerit‑jerit, memaki, merusak barang, dan berguling‑guling di lantai. Anak yang lebih kecil biasanya muntah atau mengompol, kadangkala ada juga yang menyerang orang lain dengan menyepak dan memukul.

Temper tantrum sering terjadi pada anak usia prasekolah terutama 2 sampai 4 tahun ketika anak pertama kali berusaha menunjukkan negativisme dan kemandiriannya. Setelah lebih besar (5 ‑ 12 tahun) anak sudah bisa mengutarakan pikirannya secara verbal sehingga temper tantrum akan berkurang.

Penyebabnya biasanya karena reaksi instingtif saat frustrasi, diserang atau keinginan tidak terpenuhi, meniru, ketidakmampuan mengutarakan isi hati secara komunikatif.

3. Agresif: verbal atau fisik

Perilaku Agresif adalah perilaku yang dapat menimbulkan luka pada diri sendiri atau orang lain. Agresi bisa berupa agresi fisik seperti memukul, menyepak, melempar, mendorong, meludahi, dll. dan bisa berupa agresi psikis seperti memanggil nama dengan tidak hormat, mengejek, memerintah, memberi label, bertengkar, dan mengancam.

Anak yang agresif cenderung impulsif, mudah marah, tidak matang, sukar menerima kritik dan mudah frustrasi. Penyebabnya antara lain karena frustrasi datam kehidupan sehari‑hari atau karena pengaruh daya khayal anak. Anak yang sering menonton filem‑filem agresi cenderung lebih agresif daripada anak lain pada umumnya.

4. Menarik diri

Anak yang menarik diri tidak mau terlihat datam kontak sosial dengan teman‑temannya. hat ini dapat dipengaruhi oleh masalah lain seperti kesulitan bersekotah, gangguan kepribadian, dan masalah‑masalah emosionat. Namun bisa juga terjadi anak‑anak yang terlalu pandai atau terlalu kreatif seringkali mengalami masalah ini. Cara berpikir yang berbeda membuat teman‑teman seusianya tidak dapat menerima mereka sehingga ia terkucilkan.

Anak‑anak menarik diri disebabkan oleh rasa takut terhadap orang lain, kurangnya keterampitan sosial seperti antri, berbagi, menyumbangkan ide,dll., atau orangtua yang tidak suka pada teman sebayanya.

5. Impulsif

Anak yang imputsif bertindak secara spontan secara mendadak, memaksa, dan tidak sengaja. la tidak memikirkan akibat dari tindakannya.

Anak usia prasekolah masih wajar jika menunjukkan beberapa peritaku impulsif mengingat kematangan kognitif dan emosinya masih belum berkembang sepenuhnya. Namun untuk kasus‑kasus yang ekstrim, impulsivitas dapat disebabkan oleh penyebab organik, kecemasan (karena cemas tidak dapat berpikir rasionat), dan pengaruh budaya atau pengasuhan.

6. Terlalu aktif

Pertu dibedakan anak yang terlalu aktif dari anak yang hiperaktif. Hiperaktivitas ditandai dengan kegiatan yang tidak terarah dan tidak tepat. Anak yang hiperaktif tidak mampu memusatkan perhatian, impulsif dan tidak bisa diam.

Anak yang terlalu aktif biasanya masih bisa mengikuti kegiatan belajar, namun pada saat tertentu ia menjadi sangat aktif dan jika ditelusuri penyebabnya bisa dari faktor internal maupun eksternal. Faktor internal seperti kondisi emosi, kejenuhan betajar, kebutuhan akan perhatian, dtl. Sedangkan faktor eksternal bisa karena manajemen kelas yang kurang baik, pelajaran kurang menantang, ataupun karena karakteristik guru.

7. Kurang mampu berkonsentrasi

Beberapa anak kurang mampu berkonsentrasi. Anak yang kurang mampu berkonsentrasi bisa jadi memang mengatami Gangguan Pemusatan Perhatian atau attention deficit disorder), tapi juga ada kemungkinan disebabkan oleh faktor emosional ataupun terlalu banyak minat.

Rentang konsentrasi anak usia 2 tahun rata‑rata 7 menit, usia 3 tahun rata‑rata 9 menit, usia 4 tahun rata‑rata 12 menit, usia 5 tahun rata‑rata 14 menit (Schaefer Et Mittman, 1981)

Anak yang mengatami gangguan pemusatan perhatian menunjukkan semua atau hampir sernua ciri‑ciri: sering tidak bisa memberi perhatian untuk hal‑hal yang bersifat rinci dan membuat kesalahan karena peritakunya yang kurang perhitungan, sering mengatami kesutitan untuk tetap memperhatikan apa yang sedang dilakukannya, sering seolah‑olah tidak mendengar walaupun diajak berbicara secara langsung, sering tidak mampu mengikuti petunjuk dan gagal menyelesaikan tugas, sering mendapat kesutitan dalam mengatur tugas & aktivitasnva sendiri. sering menghindar atau mencoba untuk tidak melaksanakan tugas‑tugas yang memerlukan konsentrasi atau pemusatan perhatian dalarn waktu yang lama, sering kehilangan barang, mudah terganggu, mudah lupa melaksanakan aktivitas sehari‑hari, sering menggoyang‑goyangkan jari‑jari tangan dan kaki atau bergerak‑gerak di kursinya, sering berlari‑lari atau memanjati benda‑benda di tempat yang tidak semestinya, cenderung sulit bermain dengan diam, sering bergerak atau berbuat seolah‑olah dipacu mesin, sering berbicara tanpa berhenti, sering menjawab dengan cepat sebeturn pertanyaan selesai, cenderung sulit untuk menunggu gilirannya, dan sering memotong pembicaraan atau menyela permainan yang sedang berlangsung (Pentecost, 2004).

Penyebab kurangnya perhatian antara lain karena gangguan perkembangan syaraf, temperamen, gangguan perceptual (penglihatan atau pendengaran), tidak dapat membedakan antara figure dan latar belakang (misatnya tidak dapat membedakan mana suara yang bising atau mana suara guru), tidak dapat memahami keurutan seringkali bingung dan menjadi tampak seperti tidak memperhatikan. Kecemasan dan rasa tidak aman, kurangnya kernatangan emosi juga dapat menjadi penyebab kurangnya kernampuan untuk memusatkan perhatian.

8. Suka melamun
Melamun merupakan kegiatan yang wajar pada anak‑anak. Melamun menjadi masalah ketika dilakukan pada saat yang tidak tepat. Jika anak melamun sampai tidak dapat memperhatikan instruksi guru dan metaksanakan tugasnya maka melamun menjadi masatah (Schaefer Et Mittman, 1981).

Kegiatan melamun berlebihan dapat terjadi ketika realita kehidupan anak tidak mernuaskan sehingga lebih memilih berkhayal daripada memikirkan kenyataannya. Apalagi jika kehidupan sehari‑harinya membosankan. Selain itu perilaku melamun bisa jadi sebenarnya bukan melamun. Anak yang mengidap epilepsy ringan juga sering tampak seperti melamun, padahal sebenarnya pada saat itu ia sedang mengatami serangan ringan sehingga sempat kehilangan kesadaran setama beberapa detik (Woolfotk, 1995).

9. Egois

Anak yang egois hanya peduli dengan dirinya sendiri, hanya berfokus pada kesejahteraan dirinya sendiri tanpa peduti orang lain. Anak usia prasekolah umumnya masih egosentris karena dunianya masih terpusat pada dirinya sendiri (Papatia Et Olds, 1995), karena merasa dirinya dan dunia sekitarnya adalah satu. Mulai usia 4 atau 5 tahun keterampitan berkomunikasi mulai berkembang. Anak mulai sadar bahwa ada dirinya dan orang lain di luar dirinya, pada usia 5 atau 6 tahun anak menyadari bahwa peritakunya dapat berakibat pada orang lain (Papatia Et Olds, 1995).

Beberapa indikator peritaku egois yang bermasalah: interaksi dengan anak lain tidak produktif, konsep diri negatif, memandang orang lain secara negatif, tidak merasa memiliki datarn kelompok, sulit menjalin relasi dengan anak lain, tidak melihat partisipasinya dalarn ketompok sebagai “kita” metakukan sesuatu bersama‑sama tapi lebih sebagai apa yang “saya” inginkan.

Penyebab perilaku egois dapat dikarenakan berbagai ketakutan, seperti takut dekat dengan orang lain, takut ditotak, dan takut perubahan. Anak yang banyak merasakan ketakutan seringkali memandang berbagai perubahan datam hidupnya sebagai sesuatu yang mengancam dirinya. la memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya dan memahami sudut pandang orang lain dianggap sebagai suatu perubahan yang menakutkan. Anak yang egois seringkali khawatir dengan dampak‑dampak negatif dari perilakunya sehingga ia tidak mau berbagi perasaan dan ide sehingga ia terjebak dalarn suatu pola berpaku pada dirinya sendiri. Orangtua yang terlalu protektif dan memanjakan anak juga dapat membuat anak menjadi egois karena ia terbiasa menjadi pusat perhatian dalam ketuarganya. Selain itu, kematangan emosi juga berpengaruh terhadap peritaku egois. Anak yang belum dapat mengendalikan dirinya, masih impulsif akan menjadi anak yang egois.

10. Terlalu tergantung

Peritaku ketergantungan meliputi mencari perhatian, kasih sayang ataun bantuan dari orang lain secara berlebihan. Beberapa ciri‑ciri: sering merengek, menangis, dan peritaku tergantung tainnya, sering menyela pembicaraan orangtuanya, menuntut orang lain membantunya melakukan sesuatu padahal sebenarnya ia bisa melakukannya, tidak punya inisiatif, lebih menunggu bantuan orang dewasa, butuh kedekatan fisik, suka mencari perhatian atau mengharapkan orangtuanya sering mengawasinya, berbicara dengannya, melihat apa yang telah dibuatnya. Setelah usia 4 tahun jika anak masih menangis ketika ditinggal ibunya berarti bahwa ia menunjukkan perilaku ketergantungan.

Penyebab: adanya penguatan dari orangtua, rasa bersalah orangtua, pola pengasuhan yang permisif, mencari perhatian orangtua, perasaan egois, dan perasaan ditolak.
Sebagai panduan untuk melihat perkembangan anak usia prasekolah lihat lampiran: catatan kemajuan perkembangan CRI dan acuan menu pembelajaran anak usia dini.

Setain karena belum tuntasnya tugas‑tugas perkembangan pada suatu periode, masalah pada anak usia prasekolah dapat timbul karena adanya kelambatan perkembangan yang dapat berdampak pada kesulitan dalam belajar sehingga anak terhambat untuk mencapai kemajuan perkembangan. Kelambatan perkembangan dapat terjadi karena adanya kebutuhan‑kebutuhan khusus, tapi dapat juga terjadi karena buruknya stimulasi atau kurangnya kesempatan untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya (Drifte, 2003).

b. Masalah karena adanya kebutuhan khusus (Drifte, 2003)
1. Gangguan fisik, motorik atau sensori

Pertu perhatian khusus jika dalam keterampilan fisik dan motorik anak mengalami:

Ø Kesulitan dalam koordinasi tangan dan kaki
Ø Masatah datam keseimbangan
Ø Keterampilan motorik hatus dan motorik kasar yang jelek
Ø Bergerak dengan canggung (clumsy)

Kemungkinan adanya gangguan penglihatan dapat dilihat dari:

Ø Memegang buku atau objek sangat dekat dengan wajahnya pada saat mengamati objek tersebut.
Ø Selalu duduk dekat di depan untuk mendengarkan cerita atau menonton TV.
Ø sering menabrak benda‑benda
Ø kurang percaya diri pada saat bergerak di datam ruangan dan/atau menunjukkan kecemasan akan menabrak sesuatu.
Ø kesulitan untuk memfokuskan penglihatan pada suatu benda atau kesubtan dalam eye‑tracking
Ø kesulitan datam mengerjakan tugas yang membutuhkan keterampilan visual dan/atau keterampilan koordinasi mata & tangan.
Ø Gerakan mata tidak lazim, seperti bola mata selalu bergerak
Ø menunjukkan interaksi sosial yang tidak normal atau perilaku autistik
Ø posisi kepala tidak lazim
Ø terlihat juling, mata berputar‑putar, dll.

Kernungkinan adanya gangguan pendengaran dapat dilihat dari:
Ø Berkonsentrasi pada bahasa tubuh dan wajah orang dewasa di sekitarnya.
Ø Tidak mengikuti instruksi, hanya sesekati mengikuti instruksi dan/atau keliru dalam mengikuti instruksi.
Ø Tidak berespon ketika dipanggil namanya, terutarna jika yang memanggil berada di betakangnya.
Ø Memandang anak lain sebelurn bertindak, dan meniru.
Ø Dibandingkan anak lain terlihat lebih membutuhkan informasi visual dan alat bantu visual selarna beraktivitas.
Ø Berperitaku aneh atau seringkati frustrasi tanpa penyebab yang jelas
Ø Tidak bereaksi terhadap suara yang keras atau suara ramai yang tiba tiba muncul.
Ø Berteriak atau berbicara terlalu keras tanpa menyadarinya
Ø Terlambat bicara atau pernbicaraannya sulit dipahami
Ø mengubah warna suaranya saat berbicara
Ø Sulit mengerjakan aktivitas yang menuntut keterampilan mendengarkan.
Ø Menengokkan kepala ke arah pembicara saat diajak berbicara atau mendengarkan sesuatu
Ø Tampak asyik dengan dunianya sendiri atau menunjukkan perilaku autistik.

2. Gangguan emosi dan perilaku
Perhatikan anak‑anak yang menunjukkan perlaku:
Ø Agresif secara verbal dan/atau fisik terhadap anak lain atau orang dewasa
Ø Menarik diri
Ø Pencemas
Ø Terlalu cerewet dan terlalu ramah
Ø tidak sesuai dengan usianya
Ø aneh atau kurang diterima secara sosial
Ø Menyakiti diri sendiri
Ø Sulit menyelesaikan tugas, pertu dorongan dari orang dewasa
Ø mengacaukan rutinitas
Ø gagal membuat kemajuan yang diharapkan darinya
Ø sering membolos atau punya pola absen tertentu
Ø tidak dapat bekerjasama
Ø peritaku tak dapat diramalkan dan/atau sikap terhadap belajar
Ø berubah‑ubah
Ø tampak tidak tertarik terhadap kegiatan atau permainan
Ø terlalu tergantung pada orang dewasa
Ø hiperaktif
Gangguan perilaku kadangkala muncul karena adanya suatu peristiwa di rumah, misalnya: orang yang dicintai meninggal atau binatang kesayangannya hilang, kelahiran adik, dll.

3. Gangguan sosial
Pertu diperhatikan apakah anak menunjukkan:
Ø Tidak dapat bermain bersama anak lain
Ø Tidak dapat berbagi atau bergantian
Ø Keterampilan bercakap‑cakap yang buruk

4. Gangguan komunikasi
Pertu diperhatikan apakah anak:
Ø Gagap atau berbicara sangat lambat, tapi paham instruksi dan apa yang dikatakannya cukup masuk akat.
Ø Lambat bicara atau bicaranya tidak mudah dipahami
Ø Berbicara normal tapi apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan situasi yang ada.
Ø Berbicara normal tapi susah memahami apa yang dikatakan padanya dan/atau tidak berespon sama sekati pada orang tain
Ø Berbicara pada saat yang tidak tepat atau membuat komentar yang tidak sesuai
Ø Tertawa terlalu keras atau terlalu lama
Ø Sulit bergantian datarn bercakap‑cakap
Ø Menunjukkan kebiasaan ritual atau peritaku obsesi
Ø Sutit berkomunikasi melalui berbicara dan/atau bentuk bahasa tainnya.
Ø Tidak dapat berinteraksi dengan orang lain dengan bahasa verbal dan/atau nonverbal yang tepat
Ø Sulit bereaksi secara normal terhadap situasi sosial atau menghindari situasi sosial
Ø Pasif dan kurang atau bahkan tidak punya inisiatif atau rasa ingin tahu
Ø Tidak peduli terhadap orang lain
Ø Suaranya aneh, menggunakan bahasa ‘planet’ dan/atau kalimat kalimat ritual seperti dalam slogan periklanan.

5. Kesulitan belaiar spesifik

Kesulitan belajar spesifik meliputi:
kesulitan membaca (dyslexia), kesulitan menulis (dysgraphia), dan kesulitan motor persepsual(dyspraxia).

Pertu diperhatikan apakah anak menunjukkan kesutitan datam hal:

Ø Keterampilan motorik halus dan kasar
Ø Daya tangkap auditorial atau visual jika anak tidak mengatami masalah sensori. Mis: tidak dapat mengenali bentuk dengan tepat, susah menangkap bunyi atau fonem.
Ø Belajar dengan menghafat (nursery rhymes)
Ø Bergerak mengikuti irama atau kegiatan berpola
Ø Ingatan jangka pendek
Ø Keterampilan mengurutkan dan/atau keterampitan mengorganisir
Ø Interaksi verbal dan/atau mengikuti instruksi Koordinasi mata dan tangan.

Dyslexia merupakan kesulitan dengan kata‑kata atau bahasa dan membaca yang ditandai oleh (Strydom, 2004a, 2004b, 2004c):
Ø Sulit membedakan huruf b dan d, atau p dan q pada saat membaca atau menulis, jadi penggunaannya terbalik‑balik.
Ø Mengganti huruf, membaca dan menulis n sebagai u, m sebagai w, d sebagai b, p sebagai q, f sebagai t.
Ø Membaca atau kata terbolak‑balik, mis: pos untuk sop.
Ø Membaca atau menulis angka 17 untuk angka 71
Ø Mengalami kesulitan mengurutkan sehingga urutan huruf seringkali terbalik‑balik (misal sekolah menjadi sekolah, pos menjadi sop), urutan kata terbalik (misal saya pergi menjadi pergi saya ), menambahkan huruf (misal: kota → kotah,
Ø Kesulitan dengan kata‑kata sederhana, misalnya di rumah → ke rumah, menambahkan kata yang tidak ada datam teks.
Ø Kesulitan membaca atau mengeja.

Dysgraphia merupakan kesulitan dalam menulis yang ditandai oleh
(Strydom, 2004d):
Ø Tulisan yang tidak dapat dibaca
Ø Huruf yang tidak konsisten
Ø Dalam menulis mencampur penggunaan huruf besar dan huruf kecil,
Ø huruf cetak dan huruf latin secara tidak tepat
Ø Ukuran dan bentuk huruf tidak beraturan
Ø Huruf yang tidak selesai
Ø Harus berusaha keras untuk menggunakan tulisan sebagai sarana komunikasi

Dyspraxia merupakan gangguan dalam pengorganisasian gerakan yang ditandai oleh (Strydom, 2004e):
Ø Kecanggungan dalam bergerak, gerakan tidak terkoordinasi
Ø Sering kecelakaan, sering jatuh, menabrak.
Ø Koordinasi tangan ‑ mata atau kaki ‑ mata yang buruk
Ø Kemampuan yang buruk dalam: berpakaian, menalikan tali sepatu,mengancingkan baju, dll.
Ø Makan dan minum secara berantakan
Ø Mengalami kesulitan berbicara
Ø Orientasi arah yang buruk
Ø Orientasi ruang yang buruk
Ø Kemampuan mengurutkan yang buruk
Ø Ingatan jangka pendek buruk
Ø Kesulitan dalam merencanakan dan mengorganisir pikiran
Ø Kesulitan memegang pensil
Ø Kesulitan menyalin dari papan tulis
Ø Kemampuan menulis dan membaca buruk
Ø Kesulitan membaca dan menutis ­

APA YANG PERLU DILAKUKAN UNTUK DETEKSI DINI

OBSERVASI

Proses memperhatikan seorang anak metakukan kegiatan tanpa mencampuri
kegiatan anak tersebut.

PEDOMAN OBSERVASI (Children’s Resources International, 1997)

1. Tentukan waktu untuk mengamati perilaku anak. Misal: 15 menit pada saat anak bermain.

2. Yang diamati adalah peritaku anak yang dapat dilihat

3. Deskripsikan peritaku secara akurat dan rinci sesuai fakta yang teramati Misal: Abet masuk ke kelas dan langsung bercerita kepada temannya bahwa ia memiliki dinosaurus yang kecil dan lucu di rumahnya. Ketika temannya mengatakan bahwa ia berbohong Adam terus menyampaikan bahwa dinosaurusnya adatah binatang peliharaannya yang baru dan mengatakan:’kalau tidak percaya kamu tanya papa saya’.

4. Tidak metakukan penafsiran atau interpretasi subjektif dalam deskripsi perilaku (yang dipikir atau dirasa terjadi), misalnya: ‘Eni malas’ 4 ‘Eni tidak metakukan instruksi guru setiap kati guru meminta siswa untuk mengerjakan sesuatu dan Eni lebih memilih untuk tidur‑tiduran di bangku nya’.

5. Buat catatan untuk mendokumentasikan hasil observasi.

PERILAKU YANG DIAMATI (Children’s Resources International, 1997):

Bagaimana anak bereaksi terhadap hal‑hal rutin.
Bagaimana anak berperilaku pada saat perpindahan dari satu kegiatan ke kegiatan lain, periode tenang dan periode aktif, periode kegiatan kelompok dan periode kegiatan perorangan. Amati anak saat berpisah dengan orangtua, makan, menggunakan toilet, berpakaian, mencuci tangan, dan beristirahat.
Bahan apa yang digunakan dan bagaimana menggunakannya. Amati kualitas penggunaannya (apakah crayon dijepit dengan mantap), banyaknya macam bahan, penggunaan yang penuh daya khayal, tingkat keahlian, dan pengertian konsep.
Bagaimana interaksi anak dengan anak lain.
Bagaimana interaksi anak dengan orang dewasa.
Di mana anak bermain di ruangan kelas dan bagaimana ia berpindah.
Bagaimana anak menggunakan bahasa.
Bagaimana anak bergerak.
Suasana hati dan watak.
Peran anak dalam kelompok.

(Ditulis Oleh Heribertus Gunawan, untuk Orang Tua)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s